Blog

TALKING POINTS

Foursquare: The Next Big Thing?

This entry was posted in Brands & Marketing, Indonesian, Social Media, Trends and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Setelah Twitter, baru-baru ini Jakarta (bahkan mungkin Indonesia) kembali terkena demam situs jejaring sosial. Kali ini bukan lagi micro-blogging, melainkan layanan berbasis lokasi yang memanfaatkan lokasi kita sebagai basis informasi. Ya, aplikasi baru ini bernama Foursquare.

Sekitar 2 minggu belakangan, Foursquare marak digunakan oleh banyak onliners di Jakarta dan di kota-kota besar lain seperti Yogyakarta dan Surabaya. Pada dasarnya yang dilakukan di Foursquare adalah check-in di lokasi kita – bisa berupa gedung, kantor, restoran, tempat makan, atau bahkan jalan. Tempat yang belum ada di database (yang juga datang dari para pengguna), dapat ditambahkan sendiri sehingga membuat pengguna merasa “memiliki” tempat tersebut dan interaksinya lebih dinamis.

Di Jakarta, sudah ada cukup banyak pengguna Foursquare, dan sudah ada banyak sekali venue yang ada. Di daerah Senopati saja sudah ada Maverick, salon Roger, Soto Ambengan Cak Di, Nasi Goreng Cabe Rawit Jalan Daksa, Bakso Joni, Nenen Baby Shop, dan masih banyak lagi. Ketika melintas di daerah Kuningan, sudah ada venue Perempatan Kuningan, dan bagi Anda yang sering naik Metro Mini 69, sudah ada Metro Mini 69 tercatat sebagai venue di Foursquare.

Hal-hal ini menunjukkan bahwa respon pengguna di Jakarta cukup positif dan mereka juga antusias dan aktif menambahkan berbagai venue baru. Interaksi verbal antarpengguna memang relatif minim – karena hanya dilakukan lewat sebuah “shout” sebanyak maksimal 140 karakter. Namun, interaksi nonverbal dilakukan lewat dua cara: check-in di suatu lokasi dan kompetisi dalam hal badge, poin, dan menjadi Mayor.

Dengan melakukan check-in maka kita akan mendapatkan sejumlah poin tertentu, dan kita bisa melihat bagaimana urutan poin di antara teman-teman kita yang lain. Jika kita sudah memenuhi beberapa “persyaratan” – misalnya sudah melakukan check-in di 10 tempat – maka kita bisa meng-unlock “Adventurer” badge. Ada banyak badge yang bisa di-unlock, dan insentif ini menjadi motivasi pengguna untuk terus check-in di banyak tempat. Jika kita adalah orang yang paling sering check-in di satu tempat tertentu, maka otomatis kita akan menjadi Mayor di tempat tersebut.

Sampai di sini, pertanyaan yang muncul tentu adalah bagaimana dengan layanan lokal, Koprol? Dalam hal ini kami sependapat dengan Daily Social yang menyatakan bahwa Koprol, sama halnya dengan Gowalla dan Brightkite, kurang mempunyai fitur yang membuat pengguna ingin kembali menggunakan layanan mereka. Dengan kata lain: insentif atau reward bagi pengguna.

Selain itu, menurut kami Koprol juga memoderasi penambahan tempat baru – sehingga pengguna harus menunggu beberapa saat untuk bisa check-in di venue tersebut. Mobile client juga menjadi satu hal yang sedikit menghambat aksesibilitas Koprol. Adanya mobile site cukup membantu, namun dengan meningkatnya pengguna BlackBerry dan iPhone kelihatannya mobile client akan menjadi tuntutan.

Dua hari yang lalu, TechCrunch mengeluarkan sebuah statistik dari GigaOm, yang menyatakan bahwa 66% check in di Foursquare dilakukan lewat iPhone, dan dengan diluncurkannya BB Apps untuk Foursquare jumlah check in di Foursquare melalui Blackberry meningkat 5%, dari 11%.

Nah, bagaimanakah Foursquare dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis? Karena layanan ini berbasis lokasi, maka tempat hiburan adalah natural users bagi Foursquare. Restoran, kafe, dan retail dapat dengan mudah memanfaatkan Foursquare sebagai salah satu strategi marketing PR yang melibatkan interaksi dengan costumer dan mendorong terciptanya WoM.

Lihat saja Marc Jacobs yang bekerja sama dengan Foursquare untuk acara New York Fashion Week. Atau berpuluh-puluh restoran yang menawarkan reward bagi Mayor di masing-masing restoran. Atau Zagat – the Foodie Lover yang menyediakan berbagai tips dan review restoran di banyak kota di Amerika. Atau mungkin seperti AJ Bombers yang berhasil mengundang lebih dari 150 orang pengguna Foursquare di Milwaukee dan meningkatkan penjualan kedai burgernya sebanyak 110% dibandingkan di hari Minggu.

Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis dengan Foursquare! Dan melihat antusiasme onliners Jakarta (dan Indonesia) terhadap hal-hal baru, sangat mungkin Foursquare akan menjadi fenomena yang besar juga di sini. Peluang untuk menggunakan Foursquare untuk bisnis pun masih terbuka lebar, dan jika Anda mulai sekarang, Anda akan menjadi yang pertama.

Jadi, bagaimana menurut Anda tentang Foursquare? Apakah akan banyak bisnis yang menggunakan Foursquare di Indonesia?

Share :
  • Digg
  • del.icio.us
  • Twitter
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Technorati
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Google Bookmarks
  • Yahoo! Bookmarks
  • Live
  • email
  • PDF



12 Responses to Foursquare: The Next Big Thing?

  1. Pingback: Is Foursquare the next Facebook for Indonesia? « Unspun

  2. hanny says:

    hore hore hore hore hore aku sudah ada di foursquare jugaaaa, seruuuu :D

  3. Aulia Masna says:

    there’s a mailing list for 4sq users in Indonesia, id-foursquare@googlegroups.com

  4. Hanny says:

    @aulia: oh foursquare disingkatnya gitu yaaaa hihihi 4sq ;) yuuuk 4sq-an lagi!

  5. hmm.. koprol musti punya sesuatu yang jadi kelebihan dari 4sq nih..

    *mikir*

  6. fairyteeth says:

    koprol buruan bikin aplikasi donk biar gak kalah sama 4sq :D

    jadi biar kita juga bangga pake aplikasi buataan bangsa sendiri :)

  7. hanny says:

    @fairyteeth: setuju, dit! koprol udah menang bahwa user bisa saling berinteraksi, tapi masih ketinggalan dalam soal kemudahan aksesibilitas, insentif buat user, konektivitas dg platform lain, dan kepraktisan menambahkan tempat. kalau bisa dikejar mungkin seru ngeliat koprol vs 4sq :)

  8. snezanasb says:

    yup, setuju sama Hanny dan Dita!
    Koprol tuh Indonesia bgt – kita bisa saling tegur dll.. tapi jadi kurang “seru” karena nggak ada unsur kompetitifnya.. :D

  9. Ketika semua layanan dan platorm bisa melaporkan secara real time maka kita kudu semakin bijak: privasi kian tipis. Tiba-tiba muncul kerinduan untuk ke datang ke teman lama yang gak pakai dan gak peduli internet. Lebih aman. :D

  10. hanny says:

    @antyo: jadi pengen liburan ke rumah paman dan metik mangga di kebun ;) tapi dengan privasi yang kian tipis itu kadang orang jadi lebih sulit bohong, paman ;) dan kalau bohong cepet ketahuan :) )

  11. lindaleenk says:

    seperti yang dilla (kepikcantik) kmrn bilang
    belum pingin ikut main 4sq, koprol jg mash dianggurin, lha kalau kemana2 qt check in berasa ga punya privasi nantinya :)

  12. Irfan says:

    Aduh, koprol bagaimana nasibmu? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>