<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maverick Indonesia &#187; Maverick Indonesia | Epaper Is Coming To Town!</title>
	<atom:link href="http://www.maverick.co.id/category/media/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maverick.co.id</link>
	<description>Unleash the Maverick in YOU!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:03:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Epaper Is Coming To Town!</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=epaper-is-coming-to-town</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adisti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Readings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4610</guid>
		<description><![CDATA[<div>
  Udah baca Harian Detik? Eh, bukan…bukan Detik.com, tapi Harian Detik. Wajar aja kalau nama mereka mirip. <em>Wong</em>, memang masih satu perusahaan dengan Detik.com kok. Jadi, Detik.com sekarang itu bikin koran.
“Ha? Yang bener, Detik mau bikin koran?” Begitulah &#8230;</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>  Udah baca Harian Detik? Eh, bukan…bukan Detik.com, tapi Harian Detik. Wajar aja kalau nama mereka mirip. <em>Wong</em>, memang masih satu perusahaan dengan Detik.com kok. Jadi, Detik.com sekarang itu bikin koran.</p>
<p>“Ha? Yang bener, Detik mau bikin koran?” Begitulah kira-kira reaksi sebagian besar orang ketika mendengar kabar tersebut. Memang koran sih, tapi dalam bentuk epaper. Atau koran dalam bentuk digital.  Jadi koran yang satu ini hanya bisa bisa dibaca via internet. Dan Harian Detik secara khusus membidik pengguna iPad dan tablet PC.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/harian-detik1.jpg"><img class="size-large wp-image-4613" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/harian-detik1-1024x527.jpg" alt="" width="558" height="287" /></a></p>
<p>Ini adalah langkah yang pintar. Kenapa? Simak nih penjabarannya…</p>
<p>-Pengguna iPad dan tablet PC semakin hari semakin banyak.</p>
<p>-Mobilitas orang Indonesia, terutama kaum urbannya, sudah semakin tinggi. Mereka sudah hampir tidak punya waktu untuk membolak-balik halaman koran. Tapi uniknya mereka masih ingin membaca surat kabar. Karena pemberitaan di koran lebih lengkap dan tidak bersifat selintas seperti berita di online yang membuat orang terus menunggu-nunggu follow upnya. Kelengkapan itulah yang membuat mereka masih tidak bisa melepaskan diri dari koran.</p>
<p>-Bisa dikatakan bahwa Harian Detik menjadi epaper pertama di Indonesia yang berdiri sendiri. Karena selama ini epaper yang ada di tanah nusantara adalah “copy-paste” dari harian cetaknya.</p>
</div>
<p>-Harian Detik juga terbit dua kali sehari. Yaitu pada pukul enam pagi dan empat sore. Ini jelas menutupi kelemahan dari segi aktualitas yang selama ini dikeluhkan kepada epaper yang ada.</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun bentuk visual Harian Detik adalah koran, namun ia mendisain tiap halamannya dalam bentuk cukup <em>compact</em>. Ia hanya terdiri 14 halaman dengan masing-masing seksi hanya mendapat jatah satu halaman. Tiap lembarannya hanya terdiri dari tiga berita maupun <em>feature</em>. Sejauh ini, konsep tersebut sangat sesuai dengan pasar yang ia bidik. Yaitu kaum urban pengguna tablet PC yang hanya ingin melihat berita yang penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlihat sekali kalau Chairul Tanjung, sang pemilik Harian Detik, tidak main-main ketika membuat terobosan epaper yang satu ini. Ia sengaja mengajak para redaktur dari media-media ternama seperti Tempo untuk membangun media koran online-nya ini. Konon lelaki yang dikenal sebagai “Papanya Transcorp” itu membayar mereka dengan gaji setara dengan Produser Eksekutif Trans TV.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala kefantastisan yang dilakukan oleh Papanya Transcorp ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Untuk apa ia lakukan ini semua? Apakah bisnis media memang segitu menguntungkannya ketimbang usaha perbankan yang ia miliki, yakni Bank Mega? Semua pertanyaan itu memunculkan sebuah spekulasi, bahwa pelebaran sayapnya ke ranah media ini demi melancarkan jalannya untuk melenggang ke dunia politik. Bukankah sudah menjadi sifat dasar seorang pebisnis yang ingin selalu membidik lebih tinggi? Jika memang itu adalah niatan utama Chairul Tanjung, maka biarlah itu terjadi. Tokh, ia melakukannya dengan jalan yang benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat datang kepada Harian Detik ke ranah media tanah air!</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik Pun Membiru</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=detik-pun-membiru</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 03:12:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adisti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Readings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4601</guid>
		<description><![CDATA[“Wah, Detik.com sekarang jadi warna biru begini , ya…”
Tahun ini memang terjadi perubahan besar-besaran di situs berita Detik.com. Semuaberawal dari Chairul Tanjung “Papanya Transcorp” membeli portal tersebut dari CEO Agrakom, Abdul Rahman, tempat Detik.com bernaung selama ini. Dibelinya situs&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">“Wah, Detik.com sekarang jadi warna biru begini , ya…”</p>
<div id="attachment_4604" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/Detikcom1.jpg"><img class="size-medium wp-image-4604 " src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/Detikcom1-200x103.jpg" alt="" width="200" height="103" /></a><p class="wp-caption-text">Tampilan baru Detik.com</p></div>
<p>Tahun ini memang terjadi perubahan besar-besaran di situs berita Detik.com. Semuaberawal dari Chairul Tanjung “Papanya Transcorp” membeli portal tersebut dari CEO Agrakom, Abdul Rahman, tempat Detik.com bernaung selama ini. Dibelinya situs berita yang menjadi acuan karena kecepatan beritanya itu, membuat banyak orang terhenyak. Bukan hanya dari kalangan pebisnis, tapi juga dari kaum jurnalis. Soalnya selama ini, Chairul Tanjung dikenal sebagai pengusaha media televisi. Stasiun televisi Trans TV dan Trans 7 telah berhasil melambungkannama lelaki kelahiran 16 Juni 1962 ini. Makanya ketika ia membeli Detik.com, banyak yang tidak menyangka manuvernya kali ini.</p>
<div>
<p>Meskipun latar belakang pendidikan Chairul Tanjung adalah Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, namun dunia media bukanlah hal asing bagi ayah dari dua anak ini. Soalnya ia sendiri adalah putra dari seorang wartawan yang aktif pada zaman Orde Baru.</p>
</div>
<p>Sebelum ia dikenal sebagai Papanya Transcorp, lelaki yang menurut majalah Forbes Indonesia ini memiliki kekayaan sebesar 2,1 milyar dolar AS ini dikenal sebagai bosnya Para Group (yang kini telah berubah nama jadi CT Corp), dengan Bank Mega sebagai usahanya yang paling dikenal masyarakat. Kekayaan yang menempatkan ia sebagai orang terkaya nomor sebelas di Indonesia itu membuat ia tidak perlu berpikir terlalu lama untukmembeli Detik.com. Konon ia harus merogoh kocek sebesar kurang lebih 70 juta dolar AS. Angka yang sangat fantastis memang. Tapi itu juga angka yang sangat wajar jika mengingat betapa besar pengaruh Detik.com terhadap masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin melek digital.</p>
<p>Tak berapa lama setelah Detik.com secara resmi dipinang oleh bos CT Corp itu, perubahan langsung terlihat di situsnya. Tidak ada lagi warna merah terang yang dulu menjadi salah satu ciri khas Detik.com. Kini situsnya berwarna kebiruan, senada dengan warna lambang Trans TV dan Trans 7.</p>
<p>Yang kini menjadi pertanyaan banyak ornag adalah bagaimana arah pemberitaan Detik.com setelah adanya akuisisi ini, ya? Soalnya seperti yang kita ketahui dari teori Analisis Framing, tidak ada sebuah media yang benar-benar obyektif. Semuanya telah disusupi oleh idealisme perusahaan, kekuasaan, partai politik yang mendaulatkan diri sebagai pemiliknya. Dalam beberapa hal, idealisme itu berfungsi sebagai “rem” atau yang lebih biasa kita sebut dengan norma alias kesopanan dalam melakukan pemberitaan. Tapi tak jarang idealisme itu berubah jadi sebuah ajang agenda setting dalam media.</p>
<div>
<p>Nah, Detik.com yang kini jadi “anaknya” Chairul Tanjung masuk di mana, nih? Masuk di mana, ya? Sepertinya hanya Detik.com sendiri yang paling berhak menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau kita boleh menduga-duga, mari kita ambil kasus  kepleset lidah yang baru dialami oleh Olga Syahputra baru-baru ini.</p>
</div>
<p>Sang presenter kocak itu salah becanda dan membuat para korban perkosaan amat tersinggung. Hal itu terjadi di sebuah acara siaran langsung yang diadakan oleh stasiun televisi naungan Transcorp. Olga pun dilaporkan ke Komisi PenyiaranIndonesia (KPI). Media online langsung “menyerbu” sang public figure tersebut dan memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. Dalam sekejap, berita tersebut sudah beredar di internet. Tak lupa jadi pembahasan seru di media sosial Twitter. Banyak masyarakat yang tidak begitu mengerti duduk persoalan, langsung membuka situs Detik.com untuk meminta petunjuk.</p>
<p>Tapi….lho….lho…., kok beritanya nggak ada di Detik? Padahal biasanya Detik selalu menjadi yang paling pertama. Keesokan harinya berita tersebut baru muncul di Detik. Dan berita follow up-nya pun, Detik kalah saing dengan media online lainnya. Detik hanya melakukan satu (iya, satu!) berita follow up tentang kasus sang presenter sekaligus pelantun lagu Hancur Hatiku itu. Padahal media online saingannya sudah membuat sekitar delapan berita follow up kasus tersebut.</p>
<div>
<p>Hmm…. Jadi apakah “ketiadaan” pemberitaan kasus ini di Detik ada hubungannya dengan hubungan “persaudaraan”nya kini dengan Transcorp? Lagi-lagi hanya Detik sendiri yang bisa memberi jawaban pastinya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KompasTV: menyusul jejak TV7, TPI atau…?</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/ideas/2011/09/kompastv-menyusul-jejak-tv7-tpi-atau%e2%80%a6/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kompastv-menyusul-jejak-tv7-tpi-atau%25e2%2580%25a6</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/ideas/2011/09/kompastv-menyusul-jejak-tv7-tpi-atau%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 08:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ideas]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Trends]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[kompasTV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4481</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/09/Kompas-TV-Inspirasi-Indonesia.jpg">&#8230;</a>
Tidak mungkin. Adalah frase yang pertama yang terlintas dibenak saya ketika pertama kali mendengar Kompas akan meluncurkan stasiun televisi swasta nasional. Meski telah mengetahui keberadaan KompasTV sejak 2009 lalu, namun tidak mungkin Kompas melakukan hal tersebut karena sesuai aturan, tidak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/09/Kompas-TV-Inspirasi-Indonesia.jpg"><img class="size-full wp-image-4489 aligncenter" title="Kompas TV Inspirasi Indonesia" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/09/Kompas-TV-Inspirasi-Indonesia.jpg" alt="Kompas TV Inspirasi Indonesia" width="502" height="280" /></a></p>
<p>Tidak mungkin. Adalah frase yang pertama yang terlintas dibenak saya ketika pertama kali mendengar Kompas akan meluncurkan stasiun televisi swasta nasional. Meski telah mengetahui keberadaan KompasTV sejak 2009 lalu, namun tidak mungkin Kompas melakukan hal tersebut karena sesuai aturan, tidak ada lagi stasiun TV yang dapat bersiaran nasional kecuali lembaga penyiaran publik: TVRI. Lain ceritanya bila yang didirikan adalah stasiun TV berlangganan, swasta lokal atau komunitas. Terlebih lagi, KompasGramedia pernah mengelola TV7 (2001-2006), yang akhirnya diakuisisi oleh Para Group (Agustus 2006) untuk kemudian berubah menjadi Trans7 (Perlu diingat bahwa KG adalah perusahaan media tersebesar di dunia dalam hal jumlah penerbitan berbahasa Indonesia).</p>
<p>Menelusuri apa yang terjadi dengan TV7, rasa penasaran membawa saya menghadiri prosesi peluncuran KompasTV pada Jumat (9/9) malam lalu. Rupanya benar KompasTV diluncurkan, dan benar pula perkiraan saya bukan sebagai stasiun TV swasta nasional. KompasTV saat ini masih merupakan penyedia konten, mirip dengan PH (<em>production house</em>).</p>
<p>Pada peluncurannya, televisi yang memiliki <em>tagline </em>“Inspirasi Indonesia” ini mempersembahkan sederet sajian musik dan tari khas Indonesia. Tema peluncuran yang diangkat malam itu adalah “Simfoni Semesta Raya”, dengan menghadirkan budaya pop yang saat ini sering kita dengar, serta  menyajikan deretan lagu daerah yang dikemas apik dalam balutan orkestra dari Erwin Gutawa, pianis Andi Rianto, dan Komposer oleh Addie MS. Perpaduan nasional dan lokal sangat tepat karena Kompas TV akan banyak bersiaran secara lokal. Penguatan konten TV lokal dan kesadaran untuk melestarikan budaya lokal sesungguhnya sesuai dengan semangat keragaman konten sebagaimana digariskan oleh UU no 32 th 2002 tentang Penyiaran.</p>
<p>Meskipun bukan lembaga penyiaran, namun ia telah memiliki kepekaan terhadap budaya lokal dibandingkan TV nasional yang telah lama berdiri.  Kompas TV bersiaran melalui sembilan TV swasta lokal, yaitu ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya, bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv (23 UHF) Makassar, dan dewatatv (23 UHF) Bali.</p>
<p>Selain lagu dan tari daerah, juga ada tampilan baju dan kain khas Indonesia. Ada juga permainan anak-anak daerah yang menjadi ciri khas asli Indonesia.</p>
<p><img class="size-full wp-image-4491 alignleft" title="Kompas TV" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/09/kompas-tv-resize.png" alt="Kompas TV" width="165" height="197" /></p>
<p>Satu pernyataan menarik dari pemimpin redaksi KompasTV Taufik Mihardja malam itu “<em>Kompas TV sendiri menyajikan program-program yang berbeda dengan televisi lain, tidak ada sinetron, gosip, yang bisa merusak moral anak bangsa. KompasTV akan menyajikan tayangan yang bermutu dan lebih mendidik lebih mengutamakan sisi pendidikan</em>.”</p>
<p>Pandangan ini mengingatkan saya pada TPI, yang awalnya berdiri dengan idealisme untuk mendidik. Namun idealisme tersebut kalah di tengah jalan dan TPI kemudian memilih untuk ikut menyajikan gosip ditambah dengan sinteron serta acara goyang dangdut, dan akhirnya mengubah citra menjadi kini MNCTV (berkat sengketa kepemilikan juga). Sedikit, keraguan menyelinap masuk di benak saya. Apa iya KompasTV akan bertahan tanpa menjunjung <em>rating</em>, yang menyaratkan sinetron dan <em>infotainment</em>?</p>
<p>Hadir pada peluncuran membuat makin penasaran dan membuat saya untuk menyimak program siaran beberapa hari setelahnya. KompasTV memiliki komposisi yang relatif berimbang antara konten berita dan hiburan. Meskipun bertujuan hiburan, konten program hiburan lebih banyak mengandung unsur pendidikan dengan mengangkat tema-tema seperti alam, kebudayaan, petualangan dan sains.</p>
<p>KompasTV benar-benar melepaskan diri dari gosip atau sinetron. Salah satu favorit saya adalah “Teroka”. Sebuah program ekspedisi daratan, lautan hingga pegunungan Indonesia oleh Cahyo Alkantana, seorang fotografer senior. KompasTV mengutamakan minimal 30 persen konten lokal dan akan dikembangakan menjadi 50 persen.</p>
<p>Pada akhirnya, saya memandang idealisme yang dimiliki KompasTV sangat besar. Berani hadir dengan tayangan yang berbeda sekaligus menantang pemasangan iklan yang menjunjung rating. Apakah nasibnya akan seperti TV7 atau TPI? Kita tunggu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/ideas/2011/09/kompastv-menyusul-jejak-tv7-tpi-atau%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakistan&#8217;s Social Media Summit 2011</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/pakistans-social-media-summit-2011/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pakistans-social-media-summit-2011</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/pakistans-social-media-summit-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 04:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3934</guid>
		<description><![CDATA[On June 10 and 11, <a href="http://theunspunblog.com/">Ong</a> and <a href="http://beradadisini.wordpress.com/2011/06/14/pakistan-dangerously-enchanting/">myself</a> shared a story about how Indonesians have utilized social media in <strong>Network!!: Pakistan&#8217;s First International Social Media Summit in Karachi&#8230;</strong>. Around 200 Pakistani bloggers participated in the event: from fashion bloggers]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>On June 10 and 11, <a href="http://theunspunblog.com/">Ong</a> and <a href="http://beradadisini.wordpress.com/2011/06/14/pakistan-dangerously-enchanting/">myself</a> shared a story about how Indonesians have utilized social media in <strong>Network!!: Pakistan&#8217;s First International Social Media Summit in Karachi</strong>. Around 200 Pakistani bloggers participated in the event: from fashion bloggers to political bloggers, from developers to activists. The event, initiated by US Embassy in Pakistan and PC World Pakistan, was intended to ignite discussions among Pakistani bloggers on how they can utilize technology and social media for positive measures. Though the summit was conducted in The City of Bright Lights, Karachi, bloggers from other big cities in Pakistan like Lahore and Islamabad were also flying in to participate.</p>
<p>Pakistan has more than 4 million Facebook users and 6.2 million Twitter users, and the number is increasing everyday. US Consul General in Karachi, William Martin, said that Pakistan is one of the fastest-growing nation in terms of Facebook and Twitter usage. Official data revealed that Pakistan is the 9th nation in the world which uses Twitter the most. There were around 3 million bloggers in Pakistan at the moment. Popular blogs include political, activism and technology blogs. Most of them blog in English, since Urdu wasn&#8217;t available in various blogging platforms until only recently.</p>
<p><iframe width="425" height="349" src="https://www.youtube.com/embed/aYKgQ01kvL4?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>According to <a href="http://twitter.com/#!/thekarachikid">Khaver Siddiqi</a>, a social media manager from a Karachi-based agency, brands and companies in Pakistan are slowly beginning to realize the importance of social media. &#8220;The users are mostly youths, and Facebook is still the most popular social media channel.&#8221;</p>
<p>The way brands/companies adopted social media don&#8217;t differ much from what we&#8217;ve seen in Indonesia. Brands are mostly using Facebook pages. Some of them are also developing YouTube channels, though they are still using it in traditional means. &#8220;For example, if a company uses YouTube, they would rather upload a traditional TVC rather than using it for viral purposes,&#8221; said Khaver. Brands are doing better with Facebook pages, as they are starting to create engagement with applications and games.</p>
<p>A few days after I got back from Pakistan, I realized that the timeline of my new Pakistani friends were filled with tweets about &#8220;Coke Studio&#8221;. When I asked Khaver what would be one of the best example of how brands/companies are using social media in Pakistan, his answer didn&#8217;t surprise me. He said, it would be <a href="http://www.cokestudio.com.pk/">Coke Studio</a>. The program had grown steadily for the past four years, and now stands as the most popular social media channel/entity in Pakistan.</p>
<p>Coke Studio itself is a Pakistani TV series featuring live music performances. The program focuses on a fusion of the diverse musical influences in Pakistan, including eastern classical, folk, and contemporary popular music. The show provides a platform for renowned as well as upcoming and less mainstream artists, from various genres and regions, to collaborate musically in live studio recording sessions. The official Facebook Coke Studio page has more than 680.000 fans, and one of their YouTube video was viewed over 400,000 times in the first five weeks.</p>
<p>&#8220;Although they initially targeted youth in Pakistan, they quickly found over time that there was a vibrant Indian/Pakistani expat community that was enjoying the sufi music from around the world,&#8221; added Khaver.</p>
<p>On a separate occasion, I also got a chance to talk to <a href="http://twitter.com/gibranashraf">Gibran Ashraf</a>, the sub-editor for <a href="http://tribune.com.pk/">The Express Tribune</a>, Pakistan, about media landscape and being a journalist in Pakistan. Below are some of the insights he shared with me.</p>
<p><strong>Media landscape in Pakistan</strong></p>
<p>The media industry in Pakistan is growing at an electric pace at the moment. For decades the media outlets were suppressed, with various restrictions either enforced through law or via practice had left Pakistanis starved of news.</p>
<p>While the entertainment sector has always remained vibrant, the news side of media truly saw an explosion at the turn of the century when military dictator, Pervaiz Musharraf following his campaign of enlightened moderation allowed private television networks to start operations. The subsequent revolution brought on by the media was truly witnessed in 2007 when a lawyers movement, supported by the private television and newspaper industry helped tip the scales against the dictator, Musharraf.</p>
<p>With the advent of, and penetration of mobile phones news dissemination has increased. Radio has seen a revival as mobile subscribers close to 100 million in a country of 180 million. Pakistan has the fastest mobile penetration and among the highest subscriber rate in Asia.</p>
<p><strong>Internet, social media and free speech<br />
</strong><br />
The Internet has promoted free speech among Pakistanis. Despite limited penetration and usage of Internet, especially when compared to mobile phones. Despite this, there is a growing urge among Pakistanis to use to up-and-down nature of the Internet to learn and to express themselves in the best way they can. Social media such as the antiquated Orkut and the more modern Facebook and Twitter have been a motivation for more and more people to come online and express their thoughts. More and more Pakistanis are going to YouTube, not just to view video content made by other people, but share their creations with others around the world.</p>
<p>The ultimate use and success of social media in Pakistan can be gauged from the fact that more and more people are using social media like Facebook to launch projects and businesses. Even artists like Bilal Khan – who was recently a featured singer on Coke Studio, too started his musical career by posting songs on Facebook.</p>
<p><strong>How traditional media see social media</strong></p>
<p>Social media presence is being recognized as a necessity by the local media in Pakistan. As it was with the internet dimension till a few years ago when many companies had long boardroom meetings on whether to stake out a budget on creating a website, now companies realize that it is imperative to not only have a web face, but also have social media presence to capture the attention of their customers.</p>
<p>At the moment, however, much of social media utilization by the conventional and mainstream media is one-way traffic, much the same way they deal in their day-to-day &#8216;main&#8217; media affairs. However, this is not a symptom specific to Pakistan, as many media outlets around the world are still trying to get a hang of what social media is.</p>
<p>Most news organizations engage their subscribers or followers by posting regular items of news featured on their channel or paper and post a link from their web site or upload content directly to the social media streams, apart from one or two media organizations that have tried to make their social media more organic and up-and-down traffic on their social media outlets.</p>
<p>More insights from Pakistan Social Media Summit can be seen here:<br />
1. <a href="http://tribune.com.pk/story/187080/citizen-journalism-international-bloggers-network-in-karachi-at-first-ever-social-media-summit/">Citizen Journalism: International Bloggers Network in Karachi at First-Ever Social Media Summit</a><br />
2. <a href="http://tribune.com.pk/story/187457/social-media-from-egypts-revolution-to-karachi/">Social Media from Egypt&#8217;s Revolution to Karachi </a><br />
3. <a href="http://www.sanluisobispo.com/2011/06/16/1644530/young-pakistanis-blog-tweet-to.html">Young Pakistanis blog, tweet to push for change</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/pakistans-social-media-summit-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peti mati jadi trending topic?</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/peti-mati-jadi-trending-topic/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=peti-mati-jadi-trending-topic</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/peti-mati-jadi-trending-topic/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brands & Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3925</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini terkejut menemukan peti mati di kantor. Ya, di Jl. Balitung III No.8 dan ditujukan kepada Technical Advisor Maverick, Ong Hock Chuan. Rupanya sasaran kiriman peti mati juga ditujukan kepada sejumlah media: Kompas, The Jakarta Post, Tempo, dll. Salah&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini terkejut menemukan peti mati di kantor. Ya, di Jl. Balitung III No.8 dan ditujukan kepada Technical Advisor Maverick, Ong Hock Chuan. Rupanya sasaran kiriman peti mati juga ditujukan kepada sejumlah media: Kompas, The Jakarta Post, Tempo, dll. Salah satu petunjuk yang  menarik adalah akun twitter @restinpeacesoon. Timeline-nya berisikan pesan kepada beberapa penerima peti mati.</p>
<p>Jika tujuan pengirim adalah meramaikan jejaring sosial, maka mengirim kepada media sudah tepat. Penelitian Technographics yg dilakukan Maverick bersama LSPR akhir tahun 2010 lalu saja menemukan bahwa lebih dari setengah jurnalis di Jakarta memiliki akun Twitter. Selain itu, 72% jurnalis monitor dan mencari informasi melalui jejaring sosial. Jadi, bila tujuan pengirim peti mati mendapat publisitas atau bahkan menjadi <em>trending topic</em> hari ini, maka tujuan tersebut bisa saja tercapai.</p>
<p>Berikut artikel dari Ong Hock Chuan sebagai salah satu penerima peti mati:  <a href="http://theunspunblog.com/2011/06/06/coffins-delivered-to-your-doorstep-effective-viral-campaign-or-bad-taste/">http://theunspunblog.com/2011/06/06/coffins-delivered-to-your-doorstep-effective-viral-campaign-or-bad-taste/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/06/peti-mati-jadi-trending-topic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Investigatif di tengah Kepungan Social Media</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/04/jurnalisme-investigatif-di-tengah-kepungan-social-media/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jurnalisme-investigatif-di-tengah-kepungan-social-media</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/04/jurnalisme-investigatif-di-tengah-kepungan-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 09:54:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dody</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[aji]]></category>
		<category><![CDATA[anugerah adiwarta sampoerna]]></category>
		<category><![CDATA[atmakusumah]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[investigatif]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[metta dharmasaputra]]></category>
		<category><![CDATA[nezar patria]]></category>
		<category><![CDATA[peliputan penyidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tempo]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[wikileaks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3743</guid>
		<description><![CDATA[Meningkatnya beragam aktivitas di dunia online, seolah-olah menenggelamkan peranan media tradisional yang selama ini menjadi panduan bagi khalayak dalam mencari informasi. Betapa tidak, dunia online, terutama <em>social media&#8230;</em> mampu menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh media tradisional: kemudahan serta]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meningkatnya beragam aktivitas di dunia online, seolah-olah menenggelamkan peranan media tradisional yang selama ini menjadi panduan bagi khalayak dalam mencari informasi. Betapa tidak, dunia online, terutama <em>social media</em> mampu menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh media tradisional: kemudahan serta kecepatan mengakses informasi.</p>
<p>Belakangan, beberapa negara di dunia, termasuk negara besar seperti Amerika Serikat panik ketika mengetahui data-data paling rahasia mereka dapat diakses oleh publik melalui situs Wikileaks.</p>
<p>Indonesia tidak luput dari “serangan”. Kabel diplomasi kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta bocor. Bocoran itu diunggah di situs Wikileaks. Diantara ribuan korespondensi itu, terdapat cerita mengenai skandal-skandal yang dilakukan tokoh politik Indonesia. Presiden, ibu negara, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan tokoh lain disebut-sebut melakukan beberapa skandal. Yang terakhir adalah berita yang dimuat oleh media Australia, The Age, dari hasil informasi yang muncul di Wikileaks dengan judul <em><a href="http://www.theage.com.au/world/yudhoyono-abused-power-20110311-1bqwj.html">Yudhoyono ”abused power”</a>.</em></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Diskusi-Publik-AJI-AAS-22.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-3752" title="Diskusi Publik AJI-AAS 2" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Diskusi-Publik-AJI-AAS-22-97x130.jpg" alt="" width="97" height="130" /></a>Dalam diskusi publik bertajuk “Indonesia Dikepung Skandal, Apakabar Jurnalisme Investigatif?” yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2011, tiga tokoh jurnalistik Indonesia, Atmakusumah Astraatmadja, jurnalis senior, Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Metta Dharmasaputra, jurnalis Tempo, sepakat bahwa data-data yang muncul di Wikileaks hanyalah informasi-informasi mentah yang masih perlu diverifikasi lagi kebenarannya. Untuk itu, mereka menyesalkan media sebesar The Age dapat menerbitkan artikel hanya berdasarkan informasi dari Wikileaks semata.</p>
<p>Melihat kenyataan ini, sebenarnya ada sebuah celah yang dapat dimanfaatkan oleh media tradisional untuk dapat bersaing dengan informasi yang disampaikan melalui <em>social media</em>.</p>
<p>Berbeda dengan <em>social media</em> yang menekankan kecepatan informasi dan (seringkali) tidak memverifikasi fakta, media tradisional memiliki senjata ampuh untuk merebut perhatian khalayak dengan apa yang disebut sebagai jurnalisme investigatif, atau peliputan penyidikan, mengutip istilah Atmakusumah.</p>
<p>Dengan informasi yang ada di <em>social media</em>, persepsi publik mudah terdistorsi untuk hal-hal yang belum tentu kebenarannya dan disinilah kesempatan bagi media untuk berani meluruskan informasi tersebut, ujar Metta, sambil menambahkan bahwa disinilah peran jurnalisme investigatif seharusnya bermain.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Diskusi-Publik-AJI-AAS-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3753" title="Diskusi Publik AJI-AAS 1" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Diskusi-Publik-AJI-AAS-1-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>Mendukung pernyataan Metta, Nezar mengatakan bahwa informasi-informasi yang muncul di <em>social media</em>, termasuk juga seperti yang muncul di Wikileaks, merupakan data mentah dan inilah kesempatan bagi media untuk menelusuri informasi-informasi tersebut dan menjadikannya sebuah tulisan yang dapat menguak hal-hal yang selama ini tertutup dari mata publik. Inilah kekuatan dari jurnalisme investigatif.</p>
<p>Sayangnya, tidak semua media mampu melakukan jurnalisme investigatif. Selain membutuhkan waktu peliputan yang panjang dan keahlian khusus bagi jurnalisnya, tidak sedikit jenis peliputan ini membutuhkan biaya yang besar dan mengancam nyawa jurnalis yang melakukan peliputan. Alasan-alasan inilah yang kemudian menutup mata media dari kenyataan akan banyaknya skandal yang ada di depan mata, menunggu untuk dikuak.</p>
<p>Bayangkan, jika semua media berani mengungkap skandal-skandal yang ada di negeri ini, pastinya informasi-informasi tersebut sangat berguna untuk membuka mata publik akan kejadian yang sebenarnya terjadi. Bayangkan juga berapa kasus yang dapat dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya jika berhasil terungkap. Bayangkan berapa nyawa dan harta yang dapat terselamatkan jika skandal-skandal tersebut berhasil diungkap.</p>
<p>Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya sekadar membayangkan dan mulai memikirkan kasus apa yang akan diungkap esok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/04/jurnalisme-investigatif-di-tengah-kepungan-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dipo &amp; Media: Harga Sebuah Konsekuensi</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/03/dipo-media-harga-sebuah-konsekuensi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dipo-media-harga-sebuah-konsekuensi</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/03/dipo-media-harga-sebuah-konsekuensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 10:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dody</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[dewan pers]]></category>
		<category><![CDATA[Dipo Alam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau Steel]]></category>
		<category><![CDATA[media indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[metro tv]]></category>
		<category><![CDATA[Reinhard]]></category>
		<category><![CDATA[TV One]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3591</guid>
		<description><![CDATA[Perselisihan Dipo Alam dengan tiga media nasional: Metro TV, Media Indonesia, dan TV One sepertinya akan benar-benar masuk ranah hukum. Pasalnya, hingga hari ini, Dipo tetap bersikukuh untuk tidak meminta maaf dan lebih memilih untuk menghadapi somasi ketiga media tersebut.&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perselisihan Dipo Alam dengan tiga media nasional: Metro TV, Media Indonesia, dan TV One sepertinya akan benar-benar masuk ranah hukum. Pasalnya, hingga hari ini, Dipo tetap bersikukuh untuk tidak meminta maaf dan lebih memilih untuk menghadapi somasi ketiga media tersebut. Kekerasan hati memang sudah menjadi ciri khas Dipo sejak dia menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia jaman pemerintahan Soeharto. Kekerasan hati dan kelantangannya dalam mengkritik pemerintah waktu itu jualah yang sempat membuatnya masuk hotel prodeo.</p>
<p>Namun kekerasan dan kelantangan Dipo kali ini berbuah buruk. Banyak pihak yang justru tidak bersimpati dengan ajakannya untuk melakukan boikot terhadap media yang dianggap terlalu kritis terhadap kebijakan pemerintah.  Pernyataan Dipo dianggap sebagai ancaman yang melecehkan institusi media. Mereka menganggap tidak pantas bagi seorang pejabat publik seperti Dipo untuk mengeluarkan pernyataan semacam itu. Saya jadi ingat ungkapan yang disampaikan oleh seorang teman beberapa waktu lalu bahwa apa yang dilakukan oleh pejabat publik sebenarnya adalah etalase dari perilaku pemerintah. Hal ini membuat mereka memiliki tanggungjawab lebih atas apa yang mereka sampaikan dan lakukan di depan publik.</p>
<p>Terlepas dari kondisi yang melatarbelakangi pernyataan Dipo, seorang pejabat publik memang sudah seharusnya memikirkan segala konsekuensi atas apa yang disampaikan atau dilakukannya. Kekecewaan terhadap pemberitaan pers seyogyanya tidak diumbar secara terbuka karena ini hanya akan menimbulkan polemik berkepanjangan.</p>
<p>Dalam berkomunikasi melalui media, paradigma kekuasaan dan kewenangan sudah sepatutnya digantikan dengan egaliterisme dan transparansi dalam kerangka kecintaan pada bangsa sehingga kritik akan terlihat sebagai kontribusi pada upaya perbaikan keadaan dan kemajuan bangsa.  Prinsip mengedepankan kepentingan umum ini tidak hanya berlaku untuk para pejabat negara, namun harus diterapkan juga oleh korporasi dalam setiap komunikasinya kepada masyarakat.</p>
<p>Yang sering dilupakan, pihak-pihak yang merasa dipojokkan oleh pemberitaan media sebenarnya berhak meminta bantuan kepada Dewan Pers. Dalam Undang-Undang RI No. 40 tahun 1999 tentang Dewan Pers disebutkan salah satu fungsi Dewan Pers adalah “menjadi mediator untuk membantu menyelesaikan pengaduan masyarakat berkaitan dengan pemberitaan pers yang merugikan publik”. Mengacu pada UU ini, mungkin akan terlihat lebih <em>cool</em> dan elegan bila perselisihan dengan pers dimediasi oleh Dewan Pers.</p>
<p>Salah satu contohnya adalah ketika terjadi pemberitaan mengenai Markus (Makelar Kasus) di TV One yang melibatkan perselisihan antara stasiun televisi tersebut dengan pihak Kepolisian. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk mengakhiri perselisihan di hadapan Dewan Pers dan kasus tersebut berhenti sampai disitu tanpa harus berpanjang-panjang hingga ke wilayah hukum.</p>
<p>Begitu juga dengan kasus yang terjadi baru-baru ini antara Reinhard Nainggolan, wartawan Harian Kompas yang diputuskan bersalah oleh Dewan Pers terkait tuduhan pemerasan terhadap manajemen PT Karkatau Steel Tbk (KS) saat terjadinya proses penawaran saham perdana PT KS. Meskipun Reinhard menyatakan keberatan dengan putusan Dewan Pers tersebut dan hendak mem-PTUN-kan Dewan Pers, namun seluruh pihak yang terlibat telah sepakat untuk memilih Dewan Pers sebagai forum mediasi awal yang tepat sebelum akhirnya ke ranah hukum.</p>
<p>Kembali, berpikir sebelum bertindak atau berbicara memang sepertinya sangat perlu menjadi perhatian serius dari para pejabat publik yang notabene bertindak sebagai corong pemerintah. Karena itu tentunya kita berharap seluruh jajaran pemerintah bisa lebih <em>solid</em> melakukan kegiatan komunikasinya. Selain itu, penerapan kode etik jurnalistik juga dapat lebih ditingkatkan sehingga semua pihak dapat membatasi diri sesuai dengan koridor-koridor yang telah ditetapkan. Semoga….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/03/dipo-media-harga-sebuah-konsekuensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ondel-ondel dan Rayoean Maoet di Media Gathering #mavtempodoeloe!</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/02/ondel-ondel-dan-rayoean-maoet-di-media-gathering-mavtempodoeloe/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ondel-ondel-dan-rayoean-maoet-di-media-gathering-mavtempodoeloe</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/02/ondel-ondel-dan-rayoean-maoet-di-media-gathering-mavtempodoeloe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 08:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astri</dc:creator>
				<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3489</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 24 Februari lalu, Maverick kembali menggelar Media Gathering tahunan. Acara yang dimulai sejak tahun 2004 ini selalu mengusung tema yang berbeda; Cap Go Meh, Bollywood, Moshi-moshi, Gypsy Night, Back to 70s, Masquerade,  dan tahun ini <em>Djakarta Tempo Doeloe&#8230;</em>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 24 Februari lalu, Maverick kembali menggelar Media Gathering tahunan. Acara yang dimulai sejak tahun 2004 ini selalu mengusung tema yang berbeda; Cap Go Meh, Bollywood, Moshi-moshi, Gypsy Night, Back to 70s, Masquerade,  dan tahun ini <em>Djakarta Tempo Doeloe</em>.</p>
<p>Media Gathering yang diselenggarakan di The Only One Club, fX ini merupakan bentuk terima kasih dan ajang silaturahmi Maverick dengan rekan-rekan jurnalis, yang telah memberikan dukungan dan kerjasamanya selama ini, sehingga Maverick dapat menjadi salah satu konsultan komunikasi yan terdepan di Indonesia. Malam itu hadir lebih dari 150 jurnalis dari berbagai <em>desk</em> dan media; termasuk <em>online</em>, cetak, dan televisi. Mereka pun memakai selendang batik dan kerudung warna-warni yang dibagikan di meja registrasi.</p>
<p><strong>Djakarta Tempo Doeloe</strong></p>
<p>Tamu yang datang langsung disambut dengan Ondel-ondel setinggi 2,5 meter dan para associate Maverick yang sudah berdandan ala abang dan none Betawi. <a href="http://theunspunblog.com">Ong</a>, Technical Advisor Maverick, bahkan mengenakan kostum khusus yang mengingatkan kita akan sosok Presiden Soekarno. Ada juga gadis-gadis  Cina Betawi dengan pakaian cheong sam berwarna-warni.</p>
<p>Bukan hanya hiasan ruangan dan kostum associate Maverick yang berbau Betawi tempo doeloe. Para tamu juga dapat menikmati beragam makanan ringan khas Betawi. Sebut saja sagurangi, bir pletok, kerak telur, es podeng dan harum manis. Semuanya dapat dinikmati sambil mendengarkan alunan Gambang Kromong yang meriah.</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/makanan-betawi.jpg"><img class="size-medium wp-image-3490 aligncenter" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/makanan-betawi-194x130.jpg" alt="" width="194" height="130" /></a></p>
<p>Media Gathering tahun ini tentunya juga semakin seru dengan kehadiran duo MC andalan Maverick yang “banci tampil”, <a href="http://www.facebook.com/lsurya">Surya</a> dan <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=559913924">Ninit</a>. Kedua associate Maverick ini ternyata tidak hanya berani eksis di dalam, tetapi juga di luar kantor. Lengkap dengan bahasa Betawi serta kostum Abang dan None, keduanya  sukses memandu acara malam itu.</p>
<p>Dalam sambutannya, Mbak <a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=471952774561&amp;set=a.471941034561.251502.554394561#!/profile.php?id=554394561">Lita Soenardi</a>, Partner Maverick, menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan teman-teman media sehingga Maverick dapat berada pada posisinya saat ini. Bertambahnya jumlah klien Maverick tentunya juga berarti, bahwa semakin banyak informasi yang dapat dibagi sebagai bahan tulisan untuk sahabat-sahabat media. Mbak Lita juga mengatakan, bahwa Maverick berkomitmen untuk berpartisipasi aktif mengembangkan industri dengan membantu mengembangkan kapasitas para praktisi komunikasi.</p>
<p><strong>Permainan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak lengkap rasanya jika tidak ada permainan seru yang melibatkan para associate Maverick dan rekan-rekan media.  Karenanya, kami juga menyiapkan beberapa permainan untuk menambah keakraban dan keriaan malam itu.</p>
<p>Permainan pertama adalah <em>Mau Dikate Ap</em><em>e?</em>, Yang mengharuskan para peserta untuk men-<em>dubbing­ </em>potongan film Benyamin Sueb dengan kalimat-kalimat mereka sendiri. Permainan ini memacu kreativitas dan imajinasi peserta.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/joged-balon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3492" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/joged-balon-194x130.jpg" alt="" width="194" height="130" /></a>Permainan kedua adalah <em>Joged Balon</em> Aturannya cukup simpel; berjoget berpasangan mengikuti alunan lagu dengan balon disimpan di dahi, kemudian saat ada aba-aba, balon harus dipindahkan ke perut.</p>
<p>Permainan ketiga, <em>Rayoean Maoet</em> ,ternyata membuktikan bahwateman-teman jurnalis dan associate Maverick punya jurus-jurus maut untuk membuat pasangannya tersipu malu.</p>
<p>Selain permainan-permainan ini, kami juga mengundang rekan-rekan media untuk berparitisipasi aktif di twitter.  Walhasil, timeline @mavtweets pun ramai oleh kicauan para wartawan yang menulis berbagai komentar dengan menggunakan tagar #mavtempodoeloe.</p>
<p>Selain hadiah-hadiah yang diberikan melalui permainan, kami juga mengadakan pengundian <em>door</em><em> prize</em>. Hadiahnya pun tidak kalah menarik. Tahun ini kami membagikan iPad, Blackberry  dan kamera digital.</p>
<p><strong>Sampai Tahun Depan!</strong></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/ong.jpg"><img class="size-medium wp-image-3491 alignright" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/ong-86x130.jpg" alt="" width="86" height="130" /></a>Terima kasih kepada semua rekan-rekan media yang hadir.  Keriaan dan keakraban yang terjalin di Media Gathering Maverick tahun ini bukan hanya karena tema yang dipilih, tetapi juga karena semua  berpartisipasi dan larut dalam permainan-permainan seru yang ada. Terima kasih juga kami ucapkan kepada klien-klien kami, Coca-cola Indonesia dan Citibank, yang turut berpartisipasi dengan berbagai merchandise untuk dibagikan.  Sampai jumpa di Media Gathering tahun depan, tentunya dengan tema yang lebih seru!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/02/ondel-ondel-dan-rayoean-maoet-di-media-gathering-mavtempodoeloe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalis dan Internet Ibarat Ikan dan Air</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/12/jurnalis-dan-internet-ibarat-ikan-dan-air/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jurnalis-dan-internet-ibarat-ikan-dan-air</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/12/jurnalis-dan-internet-ibarat-ikan-dan-air/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 02:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dody</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ideas]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3383</guid>
		<description><![CDATA[Sekadar mengingatkan, beberapa hari lalu, Maverick bekerjasama dengan The London School of Public Relations (LSPR) meluncurkan sebuah hasil riset yang dilakukan terhadap 321 responden valid yang terdiri dari jurnalis, jurnalis foto, dan redaktur di 141 media dari bulan Juni hingga&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekadar mengingatkan, beberapa hari lalu, Maverick bekerjasama dengan The London School of Public Relations (LSPR) meluncurkan sebuah hasil riset yang dilakukan terhadap 321 responden valid yang terdiri dari jurnalis, jurnalis foto, dan redaktur di 141 media dari bulan Juni hingga September 2010. Riset ini dilakukan untuk mencaritahu seberapa penting internet dalam hidup jurnalis di Indonesia. Meskipun hasilnya sudah dapat ditebak, yaitu bahwa keberadaan internet sangat penting bagi seorang jurnalis sehingga tidak ada seharipun dilewatkan tanpa menggunakan internet untuk berbagai keperluan, ada beberapa fakta menarik lainnya muncul. Sebagai negara pengguna Facebook <a href="http://www.insidefacebook.com/2010/11/02/indonesia-facebook/">kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat</a> serta negara dengan tingkat penetrasi tertinggi untuk Twitter berdasarkan <a href="http://www.comscore.com/Press_Events/Press_Releases/2010/8/Indonesia_Brazil_and_Venezuela_Lead_Global_Surge_in_Twitter_Usage">hasil riset</a> dari sebuah perusahaan riset online, comScore, ternyata hal tersebut juga berdampak pada cara kerja jurnalis dalam mencari dan mempublikasikan berita. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Maverick dan LSPR, 91% jurnalis mencari informasi/berita/referensi terkait pekerjaan di Internet dan 7 dari 10 wartawan setiap hari memonitor, mencari dan/atau mendapatkan informasi melalui jejaring sosial (Facebook, Friendster, Multiply).</p>
<p>Beberapa temuan lain dari riset tersebut dapat dibaca dalam tulisan salah seorang blogger yang juga jurnalis, Ndorokakung, dibawah ini:</p>
<p><a href="http://blog.tempointeraktif.com/blog/jurnalis-suka-mengintip-jurnalis-lain/">Jurnalis Suka Mengintip Jurnalis Lain</a></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/12/peeping.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3384" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/12/peeping-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>2010 | Wicaksono | Blog</p>
<p>Jurnalis dan Internet ibarat ikan dan air. Keduanya nyaris tak terpisahkan. Bagi wartawan, tiada hari tanpa berselancar di mayantara. Dalam survei yang dilakukan oleh Research Center London School of Public Relations dan Maverick, terungkap 96,1 persen jurnalis mengakses Internet setiap hari, 2,3 persen 3 hari sekali, dan hanya 1,6 persen 5 hari sekali.</p>
<p>Hasil survei itu diumumkan Rabu lalu. Survei dilakukan pada Juni-September 2010 dengan jumlah responden 320 jurnalis dari 141 media di seluruh Indonesia. Ini adalah survei pertama tentang pola aktivitas wartawan Indonesia dalam menggunakan Internet dan jejaring sosial. Hasil survei tersebut penting bagi industri, terutama kalangan perhumasan dan pemasar, juga semua pihak yang ingin mengetahui hubungan antara wartawan dan Internet.</p>
<p>Atau jika Anda ingin memperoleh hasil yang lebih lengkap, silakan menghubungi kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/12/jurnalis-dan-internet-ibarat-ikan-dan-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Baru Terus Bermunculan</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2010/11/yang-baru-terus-bermunculan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=yang-baru-terus-bermunculan</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2010/11/yang-baru-terus-bermunculan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 01:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ignes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[nikkysirait@yahoo.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3300</guid>
		<description><![CDATA[<strong> &#8230;</strong>
Apakah media benar-benar digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan informasi, ataukah dijadikan ajang persaingan kelompok tertentu?
Pertanyaan ini bermain-main di benak saya terkait berbagai perkembangan baru di industri media kita.
Belum lama ini, stasiun televisi TPI melakukan re-branding menjadi MNC TV.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Apakah media benar-benar digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan informasi, ataukah dijadikan ajang persaingan kelompok tertentu?</p>
<p>Pertanyaan ini bermain-main di benak saya terkait berbagai perkembangan baru di industri media kita.</p>
<p>Belum lama ini, stasiun televisi TPI melakukan re-branding menjadi MNC TV. TPI sendiri memang merupakan bagian dari salah satu konglomerat media di Indonesia, MNC Group.</p>
<p>Kabar berikutnya, masih di bawah bendera MNC Group, adalah giliran Majalah Trust yang akan melakukan re-branding. Saya mendapatkan informasi ini pertama kali dari Mas Nikky Partogi Sirait, wartawan majalah Trust yang saya temui saat gelaran konferensi pers laga amal Liga Primer Indonesia di Hotel Crowne Plaza.</p>
<p>Waktu itu, saya agak kaget. Mas Nikky bilang, “Kalau ada acara-acara selain ekonomi, kasih tahu saya juga, ya!” Ketika saya bertanya mengapa, Mas Nikky pun menjelaskan bahwa majalah Trust akan melakukan re-branding. Tujuannya? Memperluas pasar. Caranya, dengan menambah cakupan berita; tidak hanya di ekonomi saja, tapi juga di bidang hiburan, olahraga, politik, nasional, hukum, dan bidang lainnya.</p>
<p>Mas Nikky juga sempat bilang bahwa kini Trust hendak bersaing dengan Tempo dan Gatra. Saat itu, sempat terbersit dalam benak saya: apakah ini ada juga hubungannya dengan TPI yang berubah menjadi MNC TV? Jadi akhirnya saya lontarkan pertanyaan ini kepada Mas Nikky.</p>
<p>Menurut Mas Nikky sih, tidak ada hubungannya. Ini suatu kebetulan saja. Sebelumnya, majalah Trust memang sudah punya rencana tersebut.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, saya ngobrol lagi dengan Mas Nikky perihal re-branding majalah Trust. Jadi, tepatnya di tahun kedelapan, majalah ini memutuskan re-branding. Sejak pertengahan Oktober 2010, mereka vakum sampai 11 November kemarin untuk persiapan. Setelah re-branding ini, halaman majalah jadi lebih banyak. Dari 60 menjadi 110 halaman. Eksemplar juga meningkat dari 10.000 menjadi 50.000. Harga naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.500. Jika semula majalah terbit setiap Senin, kini berubah menjadi setiap Kamis. Untuk slot iklan, mereka masih bekerja sama dengan harian Seputar Indonesia.</p>
<p>Oh ya, ada satu lagi info baru yang saya dapat. Sekarang hadir Indonesian Online Fashion &amp; Lifestyle Magazine baru, namanya Fimela (@FIMELAdotcom). Salah satu direksinya adalah Dian Muljadi, yang dulu sempat menjadi salah satu petinggi MRA Group. Sekarang Dian menjadi Managing Director Trinaya Media, yang juga menerbitkan majalah Elle, Elle Decoration, dan Marie Claire Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2010/11/yang-baru-terus-bermunculan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

