<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maverick Indonesia &#187; Maverick Indonesia | Communications 101</title>
	<atom:link href="http://www.maverick.co.id/category/postings-in-indonesian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maverick.co.id</link>
	<description>Unleash the Maverick in YOU!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:03:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Communications 101</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2012/02/communications-101/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=communications-101</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2012/02/communications-101/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 05:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>referika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Social Responsibility]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4655</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana cara organisasi Anda berkomunikasi? Siapa <em>target audience&#8230;</em> organisasi Anda? Apa tujuan organisasi Anda dalam berkomunikasi?
Pertanyaan itu lah yang membuat suasana ruangan pelatihan Catalyst menjadi ramai. Setiap peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan saling berdiskusi. Bahkan, ada peserta]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana cara organisasi Anda berkomunikasi? Siapa <em>target audience</em> organisasi Anda? Apa tujuan organisasi Anda dalam berkomunikasi?</p>
<p>Pertanyaan itu lah yang membuat suasana ruangan pelatihan Catalyst menjadi ramai. Setiap peserta memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan saling berdiskusi. Bahkan, ada peserta yang bergabung dari Perth, Australia melalui Skype untuk mengikuti pelatihan ini, pun ikut berdiskusi dengan rekannya di Jakarta. Diskusi berlangsung secara interaktif dan sangat dinamis.</p>
<p>Begitulah cerita pendek dari pelatihan Catalyst, sebuah program CSL <em>(Corporate Social Leadership)</em> dari Maverick berupa pelatihan komunikasi pro-bono bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM). Catalyst sudah berjalan sejak tahun 2005 dan menjadi sebuah kegiatan tahunan yang dilakukan Maverick. Di tahun 2012 ini, program Catalyst secara resmi telah dimulai kemarin sore, tanggal 1 Februari, dengan peserta dari tiga lembaga yaitu Indonesia Mengajar, Indonesian Future Leaders dan Mpati (Masyarakat Peduli Autism) yang dipilih dari beberapa lembaga yang mendaftarkan diri.</p>
<p>Indonesia Mengajar adalah sebuah lembaga dengan misi ingin mencerdaskan bangsa dengan cara mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan. Sedangkan Indonesian Future Leaders adalah sebuah lembaga yang digeraki oleh para pemuda yang ingin menginspirasi generasi muda Indonesia untuk melakukan perubahan. Dan Mpati adalah sebuah lembaga yang aktif dalam meningkatkan awareness tentang pentingnya edukasi dini  dan pelatihan mengenai Autisme. Ketiga organisasi ini mempunyai misi yang sangat penting, oleh karena itu Maverick berharap program Catalyst ini bisa membantu mereka dalam melaksanakan program komunikasi mereka dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Sesi pelatihan yang pertama ini diberikan oleh Crivenica Alam (Riri), <em>Head of Consultancy</em>, Maverick, dengan topik <em>Introduction to Communications and PR</em>. Para peserta, wakil dari tiga lembaga terpilih, terlihat semangat untuk memulai program pelatihan ini. Dalam sesi ini, Riri memberikan gambaran tentang elemen komunikasi dan bagaimana sebuah LSM bisa menggunakan elemen-elemen tersebut. Kemudian ia berfokus pada <em>Public Relations</em> sebagai salah satu alat komunikasi yang efektif bila digunakan secara terencana dan konsisten. Begitu banyak istilah-istilah baru yang dikenal oleh rekan-rekan LSM. Walaupun begitu, mereka tetap semangat mengikuti pelatihan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini.</p>
<p>Pelatihan Catalyst akan dilakukan dua minggu sekali selama enam bulan mendatang. Catalyst ini akan diisi dengan topik-topik komunikasi yang berbeda setiap dua minggunya untuk membantu rekan-rekan LSM untuk mencapai tujuan komunikasi mereka.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2012/02/catalyst.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4656" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2012/02/catalyst.jpg" alt="" width="460" height="313" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2012/02/communications-101/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Epaper Is Coming To Town!</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=epaper-is-coming-to-town</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adisti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Readings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4610</guid>
		<description><![CDATA[<div>
  Udah baca Harian Detik? Eh, bukan…bukan Detik.com, tapi Harian Detik. Wajar aja kalau nama mereka mirip. <em>Wong</em>, memang masih satu perusahaan dengan Detik.com kok. Jadi, Detik.com sekarang itu bikin koran.
“Ha? Yang bener, Detik mau bikin koran?” Begitulah &#8230;</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>  Udah baca Harian Detik? Eh, bukan…bukan Detik.com, tapi Harian Detik. Wajar aja kalau nama mereka mirip. <em>Wong</em>, memang masih satu perusahaan dengan Detik.com kok. Jadi, Detik.com sekarang itu bikin koran.</p>
<p>“Ha? Yang bener, Detik mau bikin koran?” Begitulah kira-kira reaksi sebagian besar orang ketika mendengar kabar tersebut. Memang koran sih, tapi dalam bentuk epaper. Atau koran dalam bentuk digital.  Jadi koran yang satu ini hanya bisa bisa dibaca via internet. Dan Harian Detik secara khusus membidik pengguna iPad dan tablet PC.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/harian-detik1.jpg"><img class="size-large wp-image-4613" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/harian-detik1-1024x527.jpg" alt="" width="558" height="287" /></a></p>
<p>Ini adalah langkah yang pintar. Kenapa? Simak nih penjabarannya…</p>
<p>-Pengguna iPad dan tablet PC semakin hari semakin banyak.</p>
<p>-Mobilitas orang Indonesia, terutama kaum urbannya, sudah semakin tinggi. Mereka sudah hampir tidak punya waktu untuk membolak-balik halaman koran. Tapi uniknya mereka masih ingin membaca surat kabar. Karena pemberitaan di koran lebih lengkap dan tidak bersifat selintas seperti berita di online yang membuat orang terus menunggu-nunggu follow upnya. Kelengkapan itulah yang membuat mereka masih tidak bisa melepaskan diri dari koran.</p>
<p>-Bisa dikatakan bahwa Harian Detik menjadi epaper pertama di Indonesia yang berdiri sendiri. Karena selama ini epaper yang ada di tanah nusantara adalah “copy-paste” dari harian cetaknya.</p>
</div>
<p>-Harian Detik juga terbit dua kali sehari. Yaitu pada pukul enam pagi dan empat sore. Ini jelas menutupi kelemahan dari segi aktualitas yang selama ini dikeluhkan kepada epaper yang ada.</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun bentuk visual Harian Detik adalah koran, namun ia mendisain tiap halamannya dalam bentuk cukup <em>compact</em>. Ia hanya terdiri 14 halaman dengan masing-masing seksi hanya mendapat jatah satu halaman. Tiap lembarannya hanya terdiri dari tiga berita maupun <em>feature</em>. Sejauh ini, konsep tersebut sangat sesuai dengan pasar yang ia bidik. Yaitu kaum urban pengguna tablet PC yang hanya ingin melihat berita yang penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlihat sekali kalau Chairul Tanjung, sang pemilik Harian Detik, tidak main-main ketika membuat terobosan epaper yang satu ini. Ia sengaja mengajak para redaktur dari media-media ternama seperti Tempo untuk membangun media koran online-nya ini. Konon lelaki yang dikenal sebagai “Papanya Transcorp” itu membayar mereka dengan gaji setara dengan Produser Eksekutif Trans TV.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala kefantastisan yang dilakukan oleh Papanya Transcorp ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Untuk apa ia lakukan ini semua? Apakah bisnis media memang segitu menguntungkannya ketimbang usaha perbankan yang ia miliki, yakni Bank Mega? Semua pertanyaan itu memunculkan sebuah spekulasi, bahwa pelebaran sayapnya ke ranah media ini demi melancarkan jalannya untuk melenggang ke dunia politik. Bukankah sudah menjadi sifat dasar seorang pebisnis yang ingin selalu membidik lebih tinggi? Jika memang itu adalah niatan utama Chairul Tanjung, maka biarlah itu terjadi. Tokh, ia melakukannya dengan jalan yang benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat datang kepada Harian Detik ke ranah media tanah air!</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/media/2011/12/epaper-is-coming-to-town/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik Pun Membiru</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=detik-pun-membiru</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 03:12:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adisti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Readings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=4601</guid>
		<description><![CDATA[“Wah, Detik.com sekarang jadi warna biru begini , ya…”
Tahun ini memang terjadi perubahan besar-besaran di situs berita Detik.com. Semuaberawal dari Chairul Tanjung “Papanya Transcorp” membeli portal tersebut dari CEO Agrakom, Abdul Rahman, tempat Detik.com bernaung selama ini. Dibelinya situs&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">“Wah, Detik.com sekarang jadi warna biru begini , ya…”</p>
<div id="attachment_4604" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/Detikcom1.jpg"><img class="size-medium wp-image-4604 " src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/12/Detikcom1-200x103.jpg" alt="" width="200" height="103" /></a><p class="wp-caption-text">Tampilan baru Detik.com</p></div>
<p>Tahun ini memang terjadi perubahan besar-besaran di situs berita Detik.com. Semuaberawal dari Chairul Tanjung “Papanya Transcorp” membeli portal tersebut dari CEO Agrakom, Abdul Rahman, tempat Detik.com bernaung selama ini. Dibelinya situs berita yang menjadi acuan karena kecepatan beritanya itu, membuat banyak orang terhenyak. Bukan hanya dari kalangan pebisnis, tapi juga dari kaum jurnalis. Soalnya selama ini, Chairul Tanjung dikenal sebagai pengusaha media televisi. Stasiun televisi Trans TV dan Trans 7 telah berhasil melambungkannama lelaki kelahiran 16 Juni 1962 ini. Makanya ketika ia membeli Detik.com, banyak yang tidak menyangka manuvernya kali ini.</p>
<div>
<p>Meskipun latar belakang pendidikan Chairul Tanjung adalah Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, namun dunia media bukanlah hal asing bagi ayah dari dua anak ini. Soalnya ia sendiri adalah putra dari seorang wartawan yang aktif pada zaman Orde Baru.</p>
</div>
<p>Sebelum ia dikenal sebagai Papanya Transcorp, lelaki yang menurut majalah Forbes Indonesia ini memiliki kekayaan sebesar 2,1 milyar dolar AS ini dikenal sebagai bosnya Para Group (yang kini telah berubah nama jadi CT Corp), dengan Bank Mega sebagai usahanya yang paling dikenal masyarakat. Kekayaan yang menempatkan ia sebagai orang terkaya nomor sebelas di Indonesia itu membuat ia tidak perlu berpikir terlalu lama untukmembeli Detik.com. Konon ia harus merogoh kocek sebesar kurang lebih 70 juta dolar AS. Angka yang sangat fantastis memang. Tapi itu juga angka yang sangat wajar jika mengingat betapa besar pengaruh Detik.com terhadap masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin melek digital.</p>
<p>Tak berapa lama setelah Detik.com secara resmi dipinang oleh bos CT Corp itu, perubahan langsung terlihat di situsnya. Tidak ada lagi warna merah terang yang dulu menjadi salah satu ciri khas Detik.com. Kini situsnya berwarna kebiruan, senada dengan warna lambang Trans TV dan Trans 7.</p>
<p>Yang kini menjadi pertanyaan banyak ornag adalah bagaimana arah pemberitaan Detik.com setelah adanya akuisisi ini, ya? Soalnya seperti yang kita ketahui dari teori Analisis Framing, tidak ada sebuah media yang benar-benar obyektif. Semuanya telah disusupi oleh idealisme perusahaan, kekuasaan, partai politik yang mendaulatkan diri sebagai pemiliknya. Dalam beberapa hal, idealisme itu berfungsi sebagai “rem” atau yang lebih biasa kita sebut dengan norma alias kesopanan dalam melakukan pemberitaan. Tapi tak jarang idealisme itu berubah jadi sebuah ajang agenda setting dalam media.</p>
<div>
<p>Nah, Detik.com yang kini jadi “anaknya” Chairul Tanjung masuk di mana, nih? Masuk di mana, ya? Sepertinya hanya Detik.com sendiri yang paling berhak menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau kita boleh menduga-duga, mari kita ambil kasus  kepleset lidah yang baru dialami oleh Olga Syahputra baru-baru ini.</p>
</div>
<p>Sang presenter kocak itu salah becanda dan membuat para korban perkosaan amat tersinggung. Hal itu terjadi di sebuah acara siaran langsung yang diadakan oleh stasiun televisi naungan Transcorp. Olga pun dilaporkan ke Komisi PenyiaranIndonesia (KPI). Media online langsung “menyerbu” sang public figure tersebut dan memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. Dalam sekejap, berita tersebut sudah beredar di internet. Tak lupa jadi pembahasan seru di media sosial Twitter. Banyak masyarakat yang tidak begitu mengerti duduk persoalan, langsung membuka situs Detik.com untuk meminta petunjuk.</p>
<p>Tapi….lho….lho…., kok beritanya nggak ada di Detik? Padahal biasanya Detik selalu menjadi yang paling pertama. Keesokan harinya berita tersebut baru muncul di Detik. Dan berita follow up-nya pun, Detik kalah saing dengan media online lainnya. Detik hanya melakukan satu (iya, satu!) berita follow up tentang kasus sang presenter sekaligus pelantun lagu Hancur Hatiku itu. Padahal media online saingannya sudah membuat sekitar delapan berita follow up kasus tersebut.</p>
<div>
<p>Hmm…. Jadi apakah “ketiadaan” pemberitaan kasus ini di Detik ada hubungannya dengan hubungan “persaudaraan”nya kini dengan Transcorp? Lagi-lagi hanya Detik sendiri yang bisa memberi jawaban pastinya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/12/detik-pun-membiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta… pada Gili Trawangan</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/05/jatuh-cinta%e2%80%a6-pada-gili-trawangan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jatuh-cinta%25e2%2580%25a6-pada-gili-trawangan</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/05/jatuh-cinta%e2%80%a6-pada-gili-trawangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 04:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sharon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[Gili Trawangan]]></category>
		<category><![CDATA[PDF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3842</guid>
		<description><![CDATA[“<em>Welcome to paradise!&#8230;</em>” Begitulah kalimat sapaan yang menyambut saya di Gili Trawangan, Lombok. Betapa saya kemudian menyadari, bahwa pulau tersebut memang nirvana untuk mereka yang mencintai pantai dan matahari. Beberapa tahun belakangan, Gili Trawangan mulai menjadi tujuan wisata]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">“<em>Welcome to paradise!</em>” Begitulah kalimat sapaan yang menyambut saya di Gili Trawangan, Lombok. Betapa saya kemudian menyadari, bahwa pulau tersebut memang nirvana untuk mereka yang mencintai pantai dan matahari. Beberapa tahun belakangan, Gili Trawangan mulai menjadi tujuan wisata yang digemari. Selain cukup dekat dijangkau dari Bali yang memang sudah populer di kalangan backpackers, akomodasi dan restoran yang mulai banyak berjamuran di Gili menjadikan pulau ini layak dikunjungi. Pulau terbesar dari kepulauan Gili ini, terletak di bagian Barat Laut Lombok dengan populasi sekitar 800 orang. Dengan luas 330 hektar, Gili Trawangan menawarkan kehidupan laut yang santai namun tetap mempesona.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-3845  aligncenter" title="gili" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/gili.jpg" alt="" width="461" height="254" /></p>
<p style="text-align: left;">Saya sangat beruntung karena pengalaman menyenangkan di Gili tersebut dapat saya nikmati secara gratis melalui penggunaan <a href="http://www.maverick.co.id/ideas/2010/08/free-holidays-and-courses-to-indulge-your-passion/">PDF (Personal Development Fund)</a>. Dana tersebut adalah hak khusus dari <a href="http://www.maverick.co.id/">Maverick</a> untuk mengembangkan potensi masing-masing Associate-nya melalui kursus yang mereka pilih maupun kegiatan travelling yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Sekarang saya akan mencoba mengajak Anda menelusuri perjalanan seru saya di awal bulan Mei lalu.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Terbang dan Mendarat di Surgawi</strong></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/transportasi1.jpg"><img class="alignright size-large wp-image-3847" title="transportasi" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/transportasi1-1024x768.jpg" alt="" width="283" height="212" /></a>Pulau Gili Trawangan dapat dicapai dengan berbagai sarana transportasi baik udara maupun laut. Saya memilih untuk menggunakan <a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/transportasi.jpg"><br />
</a>transportasi udara karena perjalanan saya dimulai di Bali. Maskapai penerbangan Wings Air (Lion Air) menawarkan penerbangan Denpasar – Lombok senilai Rp 500.000,-. Namun bagi Anda yang tidak menyukai perjalanan menggunakan pesawat baling-baling mungkin ini bukan pilihan yang tepat untuk Anda. Pesawat tersebut akan mengantar Anda ke Bandara Selaparang dalam waktu 30 menit. Sesampai di bandara, hotel tempat saya menginap sudah siap mengantar saya ke pelabuhan Bangsal dengan mobil dalam waktu 45 menit serta speedboat untuk sampai ke Pulau Gili Trawangan dalam waktu 15 menit.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk akomodasi, di Gili tersedia hotel, losmen dan <em>guest house </em>yang sesuai untuk semua tipe budget. Ada berbagai pilihan, mulai dari resort internasional senilai jutaan semalam hingga kamar sederhana seharga Rp 50.000,- per malam. Saya memilih menginap selama 3 hari 2 malam di Lumbung Beach Cottage, <a href="http://www.hotelombak.com/">Vila Ombak</a> yang memiliki bentuk rumah tradisional Lombok. Lumbung tepi pantai dengan dekor dan furnitur rotan tersebut membuat saya merasa sangat nyaman bagaikan berada di rumah sendiri. Dengan pemandangan langsung ke tepi pantai, laut yang jernih, pulau seberang dan daerah pegunungan Lombok; villa itu membuat saya tidak ingin lekas pulang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/hotel.jpg"><img class="size-full wp-image-3848  aligncenter" title="hotel" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/hotel.jpg" alt="" width="459" height="254" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Rasakan Petualangan Pulau</strong></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/Sepeda151110.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3849" title="Sepeda151110" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/Sepeda151110.jpg" alt="" width="272" height="170" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Selain menikmati kenyamanan villa, tentu saja saya tidak ingin melewatkan petualangan di sekitar pulau. Sebagai warga Jakarta yang selalu berhadapan dengan kemacetan tiap harinya, Gili Trawangan makin terasa seperti surga karena mobil dan sarana transportasi bermotor dilarang di pulau tersebut. Udara di Gili pun menjadi bebas dari asap polusi dan kebisingan akibat suara knalpot dan klakson kendaraan bermotor. Tidak perlu khawatir memulai eksplorasi Anda di Gili karena masih banyak alternatif transportasi lain untuk berkeliling.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/cidomo.jpg"><img class="alignright size-large wp-image-3853" title="cidomo" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/cidomo-689x1024.jpg" alt="" width="179" height="188" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Bagi Anda yang sehat, Anda bisa berjalan kaki. Lingkar pulau yang hanya 6.8 kilometer memungkinkan Anda mengelilingi keseluruhan pulau hanya dalam 90 menit. Bagi Anda suka berolahraga, tersedia sepeda untuk disewa dan jalan utama di Gili cocok untuk bersepeda santai. Saya sendiri memilih untuk bersepeda di pulau ini. Sepeda-sepeda ontel dan gunung tersedia untuk Anda sewa dengan membayar Rp 60.000,- per hari. Cobalah menawar senilai Rp 100.000,- untuk dua hari seperti yang saya lakukan. <img src='http://www.maverick.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Dengan sepeda, Anda bisa mencapai mersu suar dan melihat sisi lain dari pulau Gili Trawangan. Bagi Anda yang pemalas namun tetap penasaran untuk jalan-jalan, ada gerobak berkuda atau delman yang disebut cidomo. Cukup dengan Rp 30.000,-, cidomo akan mengajak Anda berkeliling pulau dan melewati kawasan hunian lokal dengan ternak mereka masing-masing (sapi, kambing, ayam bahkan kuda).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Bertemu Penyu di Lautan Biru</strong></p>
<p style="text-align: left;">Setelah puas melihat-lihat pulau, saatnya bagi saya untuk menyentuh pasir dengan jemari kaki dan menceburkan diri ke air laut yang berwarna biru jernih dan segar. Banyak sekali kegiatan air yang ditawarkan Gili Trawangan. Berhubung saya tidak punya diving license dan tidak bisa surfing, rasanya tepat kalau saya mengeksplorasi lautan Lombok dengan snorkeling. Di banyak sudut jalan Gili Trawangan, banyak stand-stand yang menawarkan paket snorkeling. Sayapun mengambil paket Rp 75.000 yang akan membawa saya ke 5 titik snorkeling lengkap dengan mask dan fin sewaan. Paket snorkeling tersebut ditempuh dalam waktu 5 jam – jam 9 pagi sampai 2 siang dengan kapal laut bersama yang dapat menampung 15 orang peserta.</p>
<div>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/snorkeling.jpg"><img class="alignleft size-large wp-image-3854" title="snorkeling" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/snorkeling-768x1024.jpg" alt="" width="183" height="244" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Anda tidak bisa berenang? Sewa saja<em> life jacket </em>di kapal atau bahkan diam saja di kapal karena mereka memiliki dasar kaca yang memungkinkan Anda tetap bisa melihat karang laut dan ikan-ikan cantik. Saya beruntung sekali dapat melihat sepasang penyu dewasa saat snorkeling di titik dekat Gili Meno. Turis-turis bule yang sekapal dengan saya pun terlihat girang sekali melihat penyu-penyu itu. Kedua penyu tersebut berenang dengan anggun dan dengan santai duduk saja di antara karang-karang saat kami dengan antusias menatap mereka. Sayang sekali saya tidak memiliki kamera bawah air untuk mengabadikan mereka tapi momen tersebut akan selalu saya ingat seumur hidup <img src='http://www.maverick.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Lembayung Senja dan Gemerlap Malam Gili Trawangan</strong></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/sunset.jpg"><img class="alignright size-large wp-image-3856" title="sunset" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/sunset-768x1024.jpg" alt="" width="161" height="215" /></a>Dari jam 4 sore – 7 malam (<em>happy hours</em>), sebagian besar café di Gili menawarkan potongan harga maupun<em> buy 1 get 1 </em>untuk cocktails dan bir. Saya juga sempat melengkapi sore saya dengan pijat ala Bali di Roemah Spa. Semua rasa lelah dan tegang setelah snorkeling pun hilang seketika. Tak lama kemudian, pulau Gili mulai berbisik dan mengantar saya ke sunset yang indah. Jika tidak ingin ketinggalan menyaksikan sunset, sebaiknya Anda sudah bersiap-siap di Sunset Point untuk mendapatkan spot terbaik menatap lembayung senja yang menutup hari di Gili.</p>
<p style="text-align: left;">Malam hari di Gili Trawangan pun tidak kalah bersemangat. Setiap malam, bar-bar di Gili bergantian menjadi tuan rumah pesta sampai jam 4 pagi. Tujuannya agar  seluruh isi pulau berkumpul di satu tempat dan dapat bersenang-senang bersama. Kalau Anda bukan penggemar pesta, ada kegiatan unik lain yang dapat Anda lakukan, yaitu menonton film di cinema terbuka. Bahasa awamnya mungkin menonton layar tancap <img src='http://www.maverick.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Cinema ini terletak persis di depan Villa Ombak dan diadakan setiap malam. Duduki salah satu dipan busa yang tersedia, beli sekotak popcorn dan nontonlah film yang dipasang malam itu diiringi latar belakang suara ombak.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Restoran Cantik Mancanegara</strong></p>
<p style="text-align: left;">Kalau bicara soal kuliner, tidak sulit menemukan tempat makan yang enak di Gili. Banyak restoran dan café di sepanjang jalan yang menyediakan menu dari berbagai negara. Berhubung 80% wisatawan di Gili Trawangan adalah pengunjung dari luar negeri maka jenis restorannya bervariasi sekali. Ada restoran Italia, Jerman, Irlandia, Jepang dan lain-lain untuk memenuhi selera makan para wisatawan mancanegara. Saya sendiri sempat mencoba ko’ko’mo’ yang menyediakan hidangan Barat dan Moz Art Café yang focus ke menu Jerman. Kalau kebetulan Anda sedang jalan kaki di siang hari yang terik, pastikan Anda mencoba Gili Gelato yang tersedia dalam berbagai rasa. Gelato dan <em>cone </em>produk lokal Gili ini akan menghilangkan dahaga sejenak dan Anda pasti ketagihan untuk menambah satu <em>cone </em>lagi.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/resto.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3857" title="resto" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/resto.jpg" alt="" width="498" height="254" /></a></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/sore.jpg"><img class="alignright size-large wp-image-3858" title="sore" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/05/sore-1024x768.jpg" alt="" width="220" height="165" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Rasanya masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan mengenai liburan saya di Gili Trawangan tapi rasanya perlu saya sudahi sampai disini agar Anda penasaran dan ingin mengunjunginya sendiri. Saya bersedia ikut apabila Anda berminat liburan di sana. Mudah-mudahan saya bisa berlibur di sana kembali… Tentunya dengan tidak lupa mengajak teman-teman di Maverick. Terima kasih Maverick telah membuat saya jatuh cinta kepada Gili Trawangan <img src='http://www.maverick.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/05/jatuh-cinta%e2%80%a6-pada-gili-trawangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Institusi Nirlaba Pun Perlu Berkomunikasi</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/04/institusi-nirlaba-pun-perlu-berkomunikasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=institusi-nirlaba-pun-perlu-berkomunikasi</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/04/institusi-nirlaba-pun-perlu-berkomunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 12:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipluk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Social Responsibility]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Autism]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Social Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[MPATI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3756</guid>
		<description><![CDATA[Dua-tiga tahun yang lalu, kita masih sering mendengar istilah “<em>sedang autis&#8230;</em>” yang ditujukan bagi mereka yang sedang memfokuskan diri terhadap sesuatu, sehingga tidak bisa diganggu.  Belakangan, kita menyadari, bahwa istilah tersebut tidak seharusnya digunakan karena menunjukkan ketidak-pekaan kita]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua-tiga tahun yang lalu, kita masih sering mendengar istilah “<em>sedang autis</em>” yang ditujukan bagi mereka yang sedang memfokuskan diri terhadap sesuatu, sehingga tidak bisa diganggu.  Belakangan, kita menyadari, bahwa istilah tersebut tidak seharusnya digunakan karena menunjukkan ketidak-pekaan kita terhadap anak-anak penyandang autis.</p>
<p>Hal ini tentu tidak lepas dari kampanye komunikasi yang dilakukan oleh organisasi maupun perorangan yang memiliki kepedulian terhadap isu autisme.  Kesadaran bahwa autisme adalah sebuah gangguan perkembangan yang kompleks dan bukan merupakan penyakit terus disebarluaskan dengan berbagai cara melalui beragam saluran. Sebuah usaha yang patut diacungi jempol.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Logo-MPATI1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-3758" title="Logo-MPATI" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Logo-MPATI1.jpg" alt="" width="300" height="150" /></a>Dalam rangka memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia (<em>World’s Autism Awareness Day</em>) yang jatuh tanggal 2 April setiap tahunnya, Maverick senang dapat kembali memberikan dukungannya kepada <a title="MPATI" href="http://www.autismindonesia.org/">Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI)</a>. Rabu, 30 Maret lalu, Maverick  membantu meluncurkan komik autisme pertama di Indonesia melalui sebuah diskusi media yang hangat. Komik bertajuk “<em>Anak Autis Sahabat Kita Semua</em>” ini merupakan penjabaran ilustratif mengenai autisme serta pola asuh yang tepat untuk diketahui para orang tua serta guru yang mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus.</p>
<p>Didirikan tanggal 24 Juni 2004 oleh <a title="Gayatri Pamoedji" href="http://gayatri-autisme.com/">Gayatri Pamoedji</a>, MPATI memfokuskan kegiatannya pada penyediaan informasi, pendidikan, pelatihan, serta konseling terkait isu autisme di Indonesia. Yayasan ini memang masih tergolong muda, tetapi kiprahnya dalam menangani isu autisme di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata.</p>
<p>Sebagai sebuah yayasan nirlaba yang mengandalkan segala sesuatunya hanya dari para anggota dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian, tidak mudah bagi MPATI untuk menjalankan programnya: melakukan sosialisasi ke berbagai daerah, memberikan pelatihan, serta terus meningkatkan kepedulian masyarakat dan media terhadap isu autisme.  Dan seperti yayasan nirlaba lainnya, kendala yang cukup menantang adalah dalam hal keterbatasan dana dan SDM.</p>
<p><em>However</em>,  MPATI <em>has </em><em>been </em><em>do</em><em>ing a great job so far!</em> Hal ini dapat dilihat dari selalu penuhnya kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan serta berbagai dukungan yang diterima sehingga memungkinkan penyelenggaraan beragam acara. Mereka pun kerap diundang untuk memberikan pelatihan tentang autisme di berbagai kota di Indonesia.</p>
<p>“<em>K</em><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Gayatri-Pamoedji-Pendiri-MPATI2.jpg"><img class="size-large wp-image-3761 alignleft" title="Gayatri Pamoedji, Pendiri MPATI" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/04/Gayatri-Pamoedji-Pendiri-MPATI2-576x1024.jpg" alt="" width="154" height="273" /></a><em>ami menyadari pentingnya peran jejaring serta program komunikasi yang berkesinambungan</em>,” ujar Gayatri yang tentunya kami amini sepenuh hati. Langkah-langkah MPATI rasanya patut menjadi contoh bagi institusi nirlaba lainnya.</p>
<p>Pasalnya, masih banyak institusi nirlaba yang memiliki tujuan mulia serta program yang hebat namun tidak mengkomunikasikannya dengan efektif ke masyarakat luas. Walhasil, mereka mengalami kendala dalam mendapatkan dukungan.</p>
<p>MPATI tidak memiliki SDM yang banyak dan dana yang berlimpah, namun dengan mengkomunikasikan tujuan dan program yayasan dengan sangat baik, MPATI berhasil mendapatkan berbagai dukungan.  Dukungan dari RCTI, Titan Center, dan <a title="Dharma Dexa" href="http://www.dexa-medica.com/">Dharma Dexa</a> memungkinkan MPATI membagikan komik tentang autisme secara gratis serta menyelenggarakan seminar cuma-cuma bertema “Anak Autis Bisa Mandiri.”  Seminar ini sukses dilaksanakan 3 April lalu dengan dihadiri oleh lebih dari 200 orang tua, terapis, serta guru sekolah anak berkebutuhan khusus dari berbagai wilayah di Indonesia. MPATI juga berhasil menggandeng radio Female sebagai media partner mereka.</p>
<p>Yang tak kalah menarik, MPATI juga telah menyadari peran <em>social media</em> dalam mengkomunikasikan pesan-pesan mengenai autisme. Melalui akun <em>Twitter</em> <a href="http://twitter.com/#!/yayasan_MPATI">@yayasan_MPATI</a>, mereka menjalin komunikasi dengan masyarakat yang memang ingin dan perlu tahu lebih banyak mengenai autisme.  Selain itu, Gayatri sendiri juga aktif menulis di blog pribadinya. Ia juga selalu menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan melalui situs MPATI, <em>e-mail</em> pribadi ataupun <a href="http://gayatri-autisme.com/">blog pribadi</a>.</p>
<p>Dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki, MPATI tidak mengenal kata menyerah. Mereka paham betul pentingnya kegiatan komunikasi, baik melalu media tradisional maupun <em>social media</em> dalam mencapai tujuan mereka. MPATI telah membuktikan, keterbatasan tidak menghentikan sebuah niat baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2011/04/institusi-nirlaba-pun-perlu-berkomunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Australia: Cerita Seru dari Bawah Sana</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/02/australia-cerita-seru-dari-bawah-sana/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=australia-cerita-seru-dari-bawah-sana</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/02/australia-cerita-seru-dari-bawah-sana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 09:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[maverick]]></category>
		<category><![CDATA[PDF]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3435</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/opera-house-resize3.jpg"></a>Salah satu dari begitu banyak hal menyenangkan yang saya temukan ketika bekerja di Maverick, adalah banyaknya kesempatan <em>traveling.&#8230;</em> Setelah outing seru kami ke Ho Chi Minh Maret lalu, presentasi dengan calon klien di Singapura, serta berbagai perjalanan seru ke penjuru]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left">
<p style="text-align: left"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/opera-house-resize3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3454" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/opera-house-resize3-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>Salah satu dari begitu banyak hal menyenangkan yang saya temukan ketika bekerja di Maverick, adalah banyaknya kesempatan <em>traveling.</em> Setelah outing seru kami ke Ho Chi Minh Maret lalu, presentasi dengan calon klien di Singapura, serta berbagai perjalanan seru ke penjuru Indonesia bersama tim A Mild sepanjang tahun 2010, Desember  2010 lalu saya pergi ke Australia. Berbekal PDF <em>(Personal Development Fund)</em> dari Maverick, saya menginjakkan kaki ke Melbourne dan Sydney untuk pertama kalinya. Berbagai pengalaman menakjubkan terjadi di  ‘bawah sana’, mulai dari menyantap berbagai  makanan lezat yang membuat saya harus diet ketat ketika kembali ke Jakarta (percayalah, diet itu tak berhasil :p), menyusuri kafe-kafe kecil dan toko-toko unik (yang membuat saya selalu merasa seolah sedang <em>shooting</em> adegan film), menyaksikan salah satu pertunjukan musik terhebat dalam sejarah hidup saya (sebegitu berlebihannya hingga saya menangis tersedu-sedu) hingga ditinggal pesawat dari Melbourne menuju Sydney (yang  ini bukan salah saya!!). Berikut beberapa potongan cerita yang bisa saya bagi dan membuat Anda semua ingin segera melompat  seperti kangguru ke Australia.</p>
<p><strong>Porsi Raksasa</strong></p>
<p>Memesan ma<a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/pancake-resize.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3438" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/pancake-resize-173x130.jpg" alt="porsi jumbo" width="173" height="130" /></a>kanan dalam porsi kecil di Australia seolah adalah hal yang mustahil. Iga bakar sebesar ukuran dua tangan manusia dewasa,  2 lapis <em>pancak</em>e tebal yang dilumuri <em>butter </em>seukuran 1 <em>scoop</em> besar <em>ice cream</em>, hingga pizza ukuran <em>personal</em> dengan taburan daging yang terlalu murah hati adalah sedikit dari banyak contoh. Pesan singkat saya, jika Anda memang penikmat makanan sejati dan ingin tetap menjaga berat badan Anda selama di Australia, usahakan selalu berbagi porsi dengan teman di samping Anda, paling tidak, kalau pulang-pulang semua celana Anda terasa sesak, Anda tidak sendirian (HAHA!)</p>
<p><strong>Keluar Masuk Gang</strong><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/alleys-resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-3439 alignright" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/alleys-resize-97x130.jpg" alt="" width="97" height="130" /></a></p>
<p>Kalau di Jakarta saya biasanya enggan keluar masuk gang sempit, di Melbourne keluar masuk gang menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Nongkrong di kafe dengan <em>barista </em>bergaya <em>punk</em> ataupun <em>hippie</em>, cuci mata di butik khusus baju-baju <em>vintage</em> yang terlihat seperti lemari nenek saya, tersesat di toko buku bawah tanah yang menjual Harry Potter dan Twilight dalam bahasa Italia dan Spanyol, hingga terpana di sebuah toko  super besar yang khusus menjual kertas kado dan pita-pita cantik dalam berbagai gradasi warna.  Rasanya tidak ada lagi perasaan takut tersesat ketika Anda tahu di tiap-tiap gang kecil itu ada sebuah petualangan seru yang menanti.</p>
<p><strong>Bertemu Idola</strong></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/oprah-resize1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3440" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/oprah-resize1-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kalimat itu terasa paling tepat untuk menggambarkan pengalaman saya menyaksikan JayZ dan U2 <em>live</em> dengan tata panggung yang tak berhenti membuat saya berdecak kagum dan tata suara yang begitu menggelegar. Seolah itu semua belum cukup, semesta begitu baik dan memperbolehkan saya menyaksikan Oprah <em>live show</em> di depan Sydney Opera House yang megah itu.  Meskipun sambil setengah mengintip dan diusir-usir petugas, paling tidak saya sempat melihat wujud asli Oprah Winfrey, Jon Bon Jovi, dan si ganteng Hugh Jackman yang meluncur di <em>flying fox</em> tepat di atas Sydney Opera House. (pingsan!!)</p>
<p><strong>Bermain dengan Alam</strong></p>
<p>Meskipun sejujurnya saya adalah perempuan kota yang lebih senang melihat jejeran gedung daripada barisan pepohonan, saya tetap <a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/cherry-pick-resize.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-3441" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/cherry-pick-resize-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>menyempatkan diri untuk menilik sisi lain Australia. Dari Melbourne, saya melangkah sedikit ke luar kota untuk bersantai di kafe <em>rustique </em>pinggir pantai dan mengunjungi beberapa kebun anggur  dan kebun ceri di Mornington Peninsula. Di Sydney, saya menyusuri <em> </em>rute <em>coastal walk</em> untuk melihat pantai <em>–</em> pantai terkenal mereka. Dari ujung Maroubra Beach, La Perousse,  Tamarama Beach (yang ini sangat terkenal karena biasanya menjadi pantai incaran para selebritis kelas dunia untuk berjemur), sampai Bondi Beach yang dipadati bikini dan celana surfing warna-warni . Tak lupa saya  juga menyempatkan piknik makan siang di rerumputan hijau sambil menikmati  pemandangan Blue Mountains.</p>
<p><strong>Saya Bisa Hidup Tanpa Mall!</strong></p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/camberwell-resize.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3442" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2011/02/camberwell-resize-173x130.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a>Di Australia, saya menemukan berbagai kegiatan menghibur yang mampu mengendurkan syaraf-syaraf otak saya yang sudah terlanjur kusut akibat hiruk pikuk Jakarta. Berbagai kegiatan seru <em>low budget </em> bisa ditemui di sana, mulai dari nonton <em>open air cinema </em>di <em>roof top</em> dengan pemandangan laut kebiruan di bawah saya, pergi ke pameran animasi Disney yang penuh dengan kenangan indah masa kecil, atau berburu harta karun di  pasar seni mingguan seperti Paddington Market di Sydney atau pasar barang bekas Camberwell Market di Melbourne. Bahkan ketika saya terlalu malas bergerak (kemungkinan besar karena kekenyangan coklat panas kental Max Brenner dan sepiring churros)  kita bisa sekedar duduk santai melihat upacara pernikahan yang sakral di tengah hamparan hijau Melbourne Botanical Garden (<em>tentunya sambil iri</em>).</p>
<p>Saya selalu percaya bahwa <em>traveling</em> bisa mengajarkan begitu banyak hal baru yang tidak akan bisa kita dapatkan dari manapun juga, dan bekerja di Maverick ternyata mampu mengajarkan saya menikmati petualangan sembari memperoleh pelajaran-pelajaran berharga tentang kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/postings-in-indonesian/2011/02/australia-cerita-seru-dari-bawah-sana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 dari 10 Wartawan Indonesia Dapatkan Ide Berita dari Internet</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/journalists/2010/12/7-dari-10-wartawan-indonesia-dapatkan-ide-berita-dari-internet/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=7-dari-10-wartawan-indonesia-dapatkan-ide-berita-dari-internet</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/journalists/2010/12/7-dari-10-wartawan-indonesia-dapatkan-ide-berita-dari-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 11:35:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Journalists]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[survey]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3375</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, Maverick dan Research Centre The London School of Public Relations Jakarta meluncurkan hasil survey mengenai pola perilaku jurnalis di Indonesia dalam penggunaan <em>social media&#8230;</em>. Penelitian dilakukan dengan 321 responden valid yang terdiri dari jurnalis, jurnalis foto, dan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, Maverick dan Research Centre The London School of Public Relations Jakarta meluncurkan hasil survey mengenai pola perilaku jurnalis di Indonesia dalam penggunaan <em>social media</em>. Penelitian dilakukan dengan 321 responden valid yang terdiri dari jurnalis, jurnalis foto, dan editor di 141 media, dari bulan Juni hingga September 2010.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/12/151220104726.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3376" title="Journo Survey" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/12/151220104726.jpg" alt="" width="419" height="314" /></a></p>
<p>Banyak data-data menarik dari penelitian tersebut, yang akan kami publikasikan juga dalam dokumen yang bisa Anda unduh minggu depan. Tetapi beberapa poin menarik yang dari hasil survei tersebut di antaranya:</p>
<ul>
<li> 91% wartawan bergantung pada Internet dalam mencari berita</li>
<li>7 dari 10 wartawan mendapatkan ide membuat berita dari Internet</li>
<li>Selain mengunjungi portal berita, sekitar 72.3% wartawan yang menjadi responden mengaku bahwa mereka juga memonitor, mencari, dan/atau mendapatkan informasi melalui jejaring sosial seperti Facebook.</li>
<li>9 dari 10 wartawan di Indonesia memang memiliki akun Facebook,</li>
<li>Lebih dari setengahnya juga memiliki akun Twitter.</li>
<li>Lebih dari setengahnya juga memiliki blog pribadi, di layanan blogging gratis seperti Blogspot atau WordPress</li>
<li>Portal berita yang paling sering diakses wartawan adalah Detik.com dan Kompas.com</li>
</ul>
<blockquote><p>Menariknya, penelitian juga mengungkap bahwa <strong>hanya 5 dari 10 wartawan  yang melakukan verifikasi setelah mendapatkan informasi pemberitaan dari  Internet</strong>. Bahkan di antara kelompok wartawan yang mengaku selalu  melakukan verifikasi terlebih dahulu, sekitar 10% masih melakukan  verifikasi tidak langsung lewat Internet: ke situs berita lain, situs  web, Wikipedia, bahkan dengan mencari subjek terkait di mesin pencari  seperti Google dan Yahoo!.</p></blockquote>
<p>Hal ini perlu menjadi perhatian perusahaan dalam berkomunikasi. Mereka  perlu tahu dan memonitor apa saja yang ada di Internet dan jejaring  sosial terkait brand/perusahaan mereka. Jika ada informasi yang salah,  keluhan yang tak terselesaikan, isu yang mulai berkembang, perusahaan  harus cepat mengambil tindakan dan memberikan respon, sebelum  informasi-informasi ini ditemukan oleh wartawan yang sedang mencoba  memverifikasi atau mencari berita di Internet.</p>
<p>Keterlibatan wartawan dalam jejaring sosial, dan kenyataan bahwa mereka juga mencari informasi dan ide pemberitaan dari Internet, pelan-pelan memang akan mengubah pola interaksi perusahaan dengan para pencari berita.</p>
<p>Perusahaan kini menghadapi tantangan untuk menjadi bagian dari jaringan sosial para wartawan. Interaksi tak lagi bisa dibatasi lewat konferensi pers atau siaran pers. Jika 7 dari 10 wartawan mendapatkan informasi mereka lewat jejaring sosial, tantangan berikutnya adalah: apakah perusahaan Anda akan muncul di garis waktu (timeline) atau halaman profil mereka?</p>
<p>Perusahaan harus menjadikan dirinya relevan bagi wartawan. Relevansi menjadi mutlak perlu, karena wartawan kini bisa memilih siapa yang akan mereka &#8216;ikuti&#8217; di Twitter atau mereka jadikan &#8216;teman&#8217; di jejaring sosial seperti Facebook. Orang-orang yang mereka ikuti dan menjadi teman mereka, otomatis akan menjadi gelembung narasumber yang mengekspos mereka terhadap berbagai informasi. Karena itu, perusahaan tak cukup lagi menggunakan cara lama seperti beriklan atau memberikan promo-promo dalam berinteraksi dengan wartawan di jejaring sosial. Informasi yang relevan menjadi penting.</p>
<p>&#8220;Survey ini sangat berguna karena ia menunjukkan besarnya pengaruh Internet dalam pekerjaan wartawan,” kata Technical Advisor Maverick Ong Hock Chuan. ”Hasil survey mendukung gagasan kami bahwa Internet sangat penting bagi wartawan media formal seperti koran/majalah, radio dan televisi. Ini juga membuktikan bahwa bila kita ingin menyampaikan pesan kepada media formal, maka dapat mulai dilakukan melalui jejaring sosial.”</p>
<p>Tunggu hasil lengkap dari survei ini yang akan kami publikasikan minggu depan, ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/journalists/2010/12/7-dari-10-wartawan-indonesia-dapatkan-ide-berita-dari-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Elo Jual.. Gue.. Beli Nggak Ya?</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/11/elo-jual-gue-beli-nggak-ya/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=elo-jual-gue-beli-nggak-ya</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/11/elo-jual-gue-beli-nggak-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 04:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brands & Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Ideas]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Video Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[amalia maulana]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[dos equis]]></category>
		<category><![CDATA[etnography]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[marketing communication]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3276</guid>
		<description><![CDATA[Dewasa ini, konsumen semakin kritis dan selektif dalam menilai sebuah brand. Dulu, konsumen seolah tak pikir panjang dalam membeli barang, bahasa premannya: “<em>Elo</em> jual, <em>gue&#8230;</em> beli”. Sekarang ini, dengan begitu banyak pilihan brand yang dihadapkan kepada konsumen, reaksi konsumen]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left">Dewasa ini, konsumen semakin kritis dan selektif dalam menilai sebuah brand. Dulu, konsumen seolah tak pikir panjang dalam membeli barang, bahasa premannya: “<em>Elo</em> jual, <em>gue</em> beli”. Sekarang ini, dengan begitu banyak pilihan brand yang dihadapkan kepada konsumen, reaksi konsumen tentunya lebih mirip judul di atas  “<em>Elo</em> jual..<em>Gue</em>..beli <em>nggak </em>ya?”.</p>
<p style="text-align: left">Berbeda dengan di era awal 90’an ketika brand merasa sudah cukup percaya diri dengan hanya pasang iklan di tiga stasiun televisi, sekarang ini bahkan setelah memasang iklan di berbagai media, brand masih saja ketar-ketir dalam menjual produknya dan meyakinkan konsumen. Brand ambassador kondang yang telah dibayar mahal dan tampak di papan-papan raksasa di pinggir jalan tak juga mampu mendongkrak angka penjualan. Ketika sebuah brand memasang iklan di  saluran A pada saat <em>prime time</em>, maka hampir bisa dipastikan brand saingannya akan memasang iklan di saluran B dengan frekuensi dua kali lebih banyak. Persaingan sengit ini dilakukan semata untuk memenangkan hati konsumen. Benarkah ini adalah cara yang tepat untuk memenangkan hati konsumen?</p>
<p style="text-align: left">Cara brand berkomunikasi dengan konsumen menjadi kunci utama untuk memenangkan hati konsumen. Tengoklah tumpukan kartu nama rekan-rekan bisnis Anda, di antaranya akan banyak Anda temukan titel “Marketing Communication”. Tak lain dan tak bukan karena banyak brand yang sadar betul cara mereka berkomunikasi terhadap konsumennya akan memberikan dampak tersendiri terhadap penjualan produk mereka. Oleh karena itulah brand membentuk suatu divisi tersendiri yang bertanggung jawab untuk memastikan kelancaran proses komunikasi ini. Bukan zamannya lagi konsumen akan serta merta percaya ketika sebuah brand mengklaim dirinya “Terdepan, Terpercaya”, konsumen akan mencari pembuktian dan mengharapkan mendengar sebuah cerita yang jujur mengenai brand tersebut.</p>
<p style="text-align: left">Lalu bagaimana brand dapat bercerita dengan baik terhadap konsumennya? Hal ini akan sangat tergantung pada kemampuan brand tersebut memahami karakteristik konsumen yang disasarnya. Brand mati-matian memperoleh <em>consumer insight </em>dengan berbagai cara, baik itu <em>focus group discussion</em>, polling, maupun selebaran survey. Hasilnya? kebanyakan informasi yang diperoleh dari berbagai survey ini tidak efektif dan bukanlah informasi yang sesungguhnya dicari oleh brand. Konsumen hanya menyampaikan hal-hal yang mereka <strong>pikir</strong> mereka lakukan dan metode-metode ini tidak mampu menyingkap hal-hal yang <strong>sesungguhnya mereka lakukan.</strong> Seperti dituturkan <em>etnographer</em> <a href="http://amaliamaulana.com">Amalia Maulana</a>, <em>etnography</em> bisa jadi jawaban bagi kebingungan brand dalam meperoleh <em>consumer insight</em>. Metode riset yang mempelajari manusia dalam lingkungan aslinya, tempat di mana mereka tinggal, bekerja, belanja hingga bermain. Brand perlu terjun dan menyelami kehidupan konsumennya sebelum akhirnya paham betul taktik komunikasi macam apakah yang sesuai dengan konsumen mereka.</p>
<p style="text-align: left"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6j7yJ61XVb8">Dos Equis- The Most Interesting Man in the World</a> adalah sebuah contoh video studi kasus yang menarik, disampaikan oleh Amalia Susilowati dari Euro RSCG Adwork Indonesia dalam workshop mengenai Marketing Communication Planning yang diselenggarakan majalah Mix. Dos Equis adalah sebuah brand bir Spanyol yang selama ini memiliki  citra yang kuno dan tak sedikitpun dilirik oleh generasi muda. Dos Equis seolah tenggelam di tengah nama-nama seperti Heineken, Guinness dan Carlsberg yang merajai pasar. Berkat ketanggapan mereka dalam memperbaharui cara berkomunikasi dengan konsumen, Dos Equis berhasil merebut jutaan hati konsumen dengan tokoh perlente <a href="http://www.youtube.com/watch?v=8Bc0WjTT0Ps&amp;feature=related"><em>“the most interesting man in the world” </em></a>kreasi mereka sendiri. (bagi Anda yang akrab dengan lelucon Chuck Norris, tokoh ini akan sedikit banyak mengingatkan Anda kepada lelucon-lelucon itu). Lupakan sosok pemabuk macam Homer Simpson yang tampak dungu dan tak menarik di mata wanita, Dos Equis mampu merumuskan bahwa pria yang paling biasa-biasa saja pun, sesungguhnya menolak dikategorikan “biasa-biasa saja”.  Dos Equis berhasil menemukan cerita mereka, menyampaikannya ke konsumen dan mempengaruhi konsumen untuk meraih botol mereka ketika berdiri di depan rak pendingin berisi puluhan brand bir lainnya. Pendek kata,  Dos Equis menjual, dan (akhirnya) konsumen membelinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/11/elo-jual-gue-beli-nggak-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta: macet, banjir dan Foke</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/10/jakarta-macet-banjir-dan-foke/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jakarta-macet-banjir-dan-foke</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/10/jakarta-macet-banjir-dan-foke/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 02:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>stephanie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ideas]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3209</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Stephanie Tjong dan Suryanata
Apakah Anda termasuk di antara sekian banyak masyarakat Jakarta yang mengeluh karena kemacetan Jakarta yang seolah terus memburuk? Apakah Anda mulai terbiasa dengan keluhan mengenai hujan-banjir-kemacetan yang memenuhi <em>timeline&#8230;</em> Twitter Anda? Apakah Anda bertanya-tanya apakah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Stephanie Tjong dan Suryanata</p>
<p>Apakah Anda termasuk di antara sekian banyak masyarakat Jakarta yang mengeluh karena kemacetan Jakarta yang seolah terus memburuk? Apakah Anda mulai terbiasa dengan keluhan mengenai hujan-banjir-kemacetan yang memenuhi <em>timeline</em> Twitter Anda? Apakah Anda bertanya-tanya apakah yang sudah dilakukan pemerintah terhadap banjir, pencemaran lingkungan dan segala permasalahan lain yang dihadapi Jakarta?</p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya bersama Surya berkesempatan untuk menghadiri makan siang bersama Gubernur Jakarta-Fauzi Bowo, yang diadakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC). Dalam pidato singkat yang disampaikan di sela-sela makan siang tersebut, Fauzi Bowo memaparkan beberapa isu yang menjadi permasalahan Jakarta seperti masalah banjir, kemacetan, peraturan mengenai larangan merokok sampai dengan masalah perubahan iklim. Kami cukup penasaran bagaimana Gubernur pertama Jakarta yang dipilih secara demokratis ini dapat menjawab berbagai pertanyaan terkait permasalahan yang tertera di atas.</p>
<p>Dalam setiap paparannya, Foke, demikian ia kerap disapa, selalu menekankan mengenai usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Pemda Jakarta untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Sebagai contoh, pembangunan Banjir Kanal Timur yang telah rampung pada Februari 2010 sebagai usaha mengatasi banjir Jakarta. Menurut data yang disampaikan, parahnya banjir Jakarta telah berhasil dikurangi sampai dengan sekitar 30 persen pada kawasan Timur dan Utara Jakarta, berkat pembangunan kanal tersebut. Terkait kemacetan, Foke juga menjelaskan usaha pengurangan penggunaan mobil pribadi melalui TransJakarta (yang disebut <em>busway</em> olehnya) dan menekankan bahwa Pemda Jakarta masih memberikan subsidi yang cukup besar atas sarana transportasi tersebut. Hal yang menarik perhatian saya terkait transportasi adalah rencana pembangunan underground train track, yang akan dimulai akhir tahun ini.</p>
<p>Foke menjawab semua pertanyaan dengan baik, dengan tentunya tidak lupa menyisipkan keoptimisannya dalam setiap jawaban dan menekankan bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk membangun Jakarta, yang disebutnya sebagai <em>mega city</em>.</p>
<p>Dalam hal penyampaian, menurut kami Foke membawakan pidatonya dengan baik. Berwibawa namun tetap santai, meskipun agak disayangkan Foke membaca teks pidato, yang juga dibagikan kepada seluruh undangan. Tidak heran jika banyak undangan yang lebih fokus pada kertas pidato dan bukannya pada Foke sendiri. Ketika menjawab pertanyaan pun Foke terlihat santai dan tegas, walaupun jawaban yang disampaikan terkesan terlalu umum dan kurang menjawab secara langsung dan mendetil.</p>
<p>Bila kami membandingkan diskusi kemarin dengan kondis Jakarta akhir-akhir ini, naïf memang bila kita mengharapkan ada perubahan besar dalam jangka waktu singkat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa warga Jakarta semakin cemas dan terganggu dengan masalah transportasi, banjir dan lingkungan yang kian hari seolah bertambah parah. Bila terjadi gangguan pada salah satu infrastruktur, maka seluruh kawasan Jakarta terkena dampaknya. Contohnya ketika terjadi hujan deras beberapa hari belakangan, banjir terjadi di banyak wilayah Jakarta dan menyebabkan kemacetan parah di berbagai ruas jalan. Keresahan warga Jakarta juga banyak diungkapkan melalui jejaring sosial media.</p>
<p style="text-align: center"><a href="../wp-content/uploads/2010/10/twitter.jpg"></a><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/10/twitter1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3213" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/10/twitter1.jpg" alt="" width="512" height="425" /></a>
</p>
<p>Ketika pada akhirnya pihak JFCC menutup acara dan bertanya mengapa Fauzi Bowo begitu optimis. Beliau pun dengan santai berkata “Ya saya harus optimis dong, jadi masyarakat saya juga begitu”  Semoga saja keoptimisan Fauzi Bowo dapat diiringi dengan wujud nyata perbaikan ibukota.</p>
<p>Paling tidak melalui pengurangan banjir serta kemacetan sebagai tolak ukur termudah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/ideas/2010/10/jakarta-macet-banjir-dan-foke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari #IndonesiaSetara</title>
		<link>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2010/09/pelajaran-dari-indonesiasetara/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pelajaran-dari-indonesiasetara</link>
		<comments>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2010/09/pelajaran-dari-indonesiasetara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 06:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>snezanasb</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[PR & Communications]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[#indonesiasetara]]></category>
		<category><![CDATA[blogger engagement]]></category>
		<category><![CDATA[KADIN]]></category>
		<category><![CDATA[Sandiaga Uno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maverick.co.id/?p=3144</guid>
		<description><![CDATA[Bahwa blogger sekarang menjadi selebritis dan <em>captive market&#8230;</em> yang menggiurkan bagi pelaku bisnis &#8211; ini bukan hal baru lagi. Bahwa blogger sekarang juga banyak dilirik dan digaet oleh para politisi untuk kepentingan yang berbau politis juga bukan lagi rahasia. Kedua]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahwa blogger sekarang menjadi selebritis dan <em>captive market</em> yang menggiurkan bagi pelaku bisnis &#8211; ini bukan hal baru lagi. Bahwa blogger sekarang juga banyak dilirik dan digaet oleh para politisi untuk kepentingan yang berbau politis juga bukan lagi rahasia. Kedua hal ini mulai lumrah dilakukan, dan tidak ada yang salah dengan ini. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana melakukan hal ini dengan baik, mengapresiasi para blogger, dan keterbukaan &#8211; karena hal inilah yang menjadi esensi dari dunia <em>online</em> dan internet.</p>
<p>Di acara deklarasi Indonesia Setara semalam, para blogger di salah satu komunitas blogger di Jakarta diundang untuk hadir. Undangan yang disebarkan lewat <em>mailing list</em> tersebut menyebutkan bahwa acara tersebut adalah deklarasi Indonesia Setara oleh <a href="http://twitter.com/sandiuno">Sandiaga Uno</a>. Sepengetahuan saya dan beberapa teman blogger, <a href="http://sandiaga-uno.com/">Indonesia Setara</a> adalah sebuah gerakan. Menarik juga, pikir saya. Ditambah lagi, ada informasi bahwa akan ada door prize (hal ini bisa diperdebatkan, tentu saja, dalam postingan terpisah), sehingga pada akhirnya ada sekitar 15 orang blogger yang akan datang, ditambah perwakilan dari Kaskus</p>
<p>Ketika hadir, venue acara sudah ramai. Setelah mengisi daftar hadir, saya menerima pin yang bertuliskan &#8220;SANDI for KADIN SATU&#8221;. Lho?! Ternyata acara tersebut adalah acara deklarasi Indonesia Setara, dan pencalonan Sandiaga Uno sebagai salah satu calon Ketua KADIN. Sebagian dari para blogger pun mulai bertanya-tanya, karena seperti saya, tidak ada satu pun dari kami yang menerima informasi bahwa acara malam itu adalah acara deklarasi pencalonan diri Sandi Uno sebagai Ketua KADIN.</p>
<p>Acara utama dimulai pukul 07.30, dan selama lebih dari 2 jam, para hadirin disuguhkan &#8220;hiburan&#8221; berupa testimoni dan pernyataan dukungan dari banyak orang terhadap pencalonan Sandi Uno. <em>And it just went on and on and on</em>&#8230;. Sampai salah seorang teman berkomentar bahwa ini seperti Friendster yang isinya hanya <em>testimonial</em>.</p>
<p>Jam 9 malam belum ada tanda-tanda acara akan berakhir, bahkan Sandi Uno sendiri belum mulai berbicara. Sebagian besar teman-teman blogger mulai bosan, mulai gelisah, dan mulai panas. Penyebabnya adalah sebuah siaran pers yang didistribusikan di tengah acara, yang mempunyai <em>headline</em> &#8220;Ratusan Technopreneur dan Blogger Dukung Sandi Uno Sebagai Calon Ketua Umum KADIN 2010-2015&#8243;. Apa?! Ratusan blogger &#8220;dukung&#8221; Sandi Uno??</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/166080331.jpg"><img class="size-full wp-image-3149 aligncenter" title="siaran pers Indonesia Setara" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/166080331.jpg" alt="" width="489" height="366" /></a></p>
<p>Dalam beberapa menit tweet-tweet bernada menyindir mulai melintas di timeline. Salah seorang blogger memfoto siaran pers tersebut dan men-tweetnya. Respon mulai berdatangan. Sebagian besar berpikir bahwa mereka datang ke sini bukan untuk mendukung &#8211; <em>lha wong</em> tahu bahwa Sandi Uno mencalonkan diri saja baru pas datang&#8230; Komentar bernada negatif tentang penyelenggara acara dan si penulis siaran pers juga mulai muncul. Saya berpikir, <em>wah, bisa backfire&#8230; </em><a href="http://twitter.com/ndorokakung">Ndorokakung</a> juga ikut dalam diskusi ini, dan ini artinya ada ribuan twitterer yang mengetahui hal ini.</p>
<p>Setelah lelah menunggu sampai acara selesai, kami masih harus menunggu lagi sampai konferensi pers selesai sekitar jam 10.20 untuk berfoto bersama. Dua detik, dan foto bersama selesai. Kami semua diminta untuk berkumpul bersama di Burger King karena sebagian belum makan. Terlintas di benak saya bahwa mungkin kami dikumpulkan untuk dibagikan <em>goodie bag</em> &#8211; karena ini praktek umum. Ternyata bukan goodie bag yang dibagikan, melainkan amplop!</p>
<p>Saya dan beberapa orang teman menolak. Buat saya ini aneh. Buat beberapa teman yang lain ini menghina dan sedikit merendahkan. Apalagi dibagikannya di tempat umum, di depan semua orang. Mendapat goodie bag atau kenang-kenangan ketika diundang ke acara seperti ini sudah biasa, tapi uang? Sebagian besar dari kita memutuskan untuk <em>ngeblog</em> karena keinginan kita untuk berbagi, menyuarakan pendapat dan kepedulian tentang berbagai hal, termasuk tentang Indonesia. Hal terakhir yang kita inginkan adalah menjadi &#8220;suara bayaran&#8221; pihak tertentu, tanpa mempunyai kebebasan untuk bisa menyuarakan pendapat pribadi kita. Setelah ini Twitter pun ramai kembali dengan topik ini. Sebagian bernada menyindir, walaupun ada juga yang menanggapi dengan lebih santai.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="../wp-content/uploads/2010/09/Picture-24.png"></a><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/Picture-32.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-3160" title="screengrab - twitter mention" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/Picture-32.png" alt="" width="423" height="53" /></a><br />
Bagi saya ada tiga kesalahan penyelenggara acara ini dalam melibatkan blogger. Pertama, dalam undangan tidak diberitahukan secara jelas dan lengkap mengenai acaranya. Beberapa merasa sedikit tertipu karena tidak tahu ini adalah deklarasi pencalonan Sandi Uno, beberapa salah kostum.</p>
<p>Kedua, yang penting bagi blogger adalah &#8220;pengalaman&#8221;. Pengalaman bertemu dan bersalaman dengan Sandi Uno, menjadi bagian dari mereka yang mengetahui informasi terkini, dan pengalaman tersebut sebaiknya diperhatikan dengan baik oleh penyelenggara. Jangan sampai blogger yang datang merasa tidak senang dan tidak nyaman, karena blogger bisa menuliskan pendapat mereka sebebas-bebasnya, dan semua orang bebas berkomentar langsung atas tulisan tersebut. Jika blogger yang bersangkutan punya massa yang cukup besar, hal ini jelas akan menjadi masalah.</p>
<p>Ketiga, penulisan <em>headline </em>siaran pers yang berlebihan dan &#8220;melanggar&#8221; para blogger. Tertulis &#8220;ratusan&#8221;, padahal hanya belasan. Tertulis &#8220;didukung oleh masyarakat umum dengan hadirnya bloggers dan technopreneurs muda yang spontan datang ke lokasi Jakarta Theatre walaupun tanpa undangan resmi&#8221;, padahal kami yang datang merasa diundang resmi, dan tidak berarti kedatangan tersebut berarti dukungan.</p>
<p>Keempat, ada pembagian amplop. Praktek yang oleh sebagian orang dianggap &#8220;biasa&#8221; dalam industri jurnalisme, tapi penyelenggara mungkin tidak menyadari bahwa melibatkan blogger dalam acara seperti ini tidak perlu di-<em>reward</em> dalam bentuk uang <em>per se</em>. Mungkin saja uang ini hanya &#8220;uang transport&#8221; tanpa maksud apapun, tapi pendapat bahwa uang ini mungkin untuk &#8220;membeli&#8221; dukungan si blogger tidak bisa dielakkan.</p>
<p><a href="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/Picture-27.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-3158" title="screengrab - twitter" src="http://www.maverick.co.id/wp-content/uploads/2010/09/Picture-27.png" alt="" width="403" height="60" /></a></p>
<p>Menurut saya, sayang hal ini harus terjadi karena Sandi Uno sebenarnya adalah seseorang yang mempunyai <em>brand equity </em>yang kuat. Ia dikenal sebagai pengusaha muda yang cerdas, sukses, visioner, dan peduli pada pelaku usaha kecil di Indonesia. Dan, tentu saja, Sandi Uno sangat <em>charming</em> dan ganteng bagi sebagian besar kami, kaum hawa ini&#8230; <img src='http://www.maverick.co.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Penyelenggara acara tidak memikirkan bloggers engagement dengan lebih  baik lagi, dan mendistribusikan siaran pers yang menyinggung para  blogger. Padahal program kerjanya menarik dan bagus, dan bahkan sebagian dari kami mulai merasa senang atas program yang diusung. Hal ini membuat saya berpikir tentang siapa yang menjadi penasehat Sandi Uno untuk meng-<em>engage</em> para blogger.</p>
<p>Ada spekulasi yang beredar bahwa penasehatnya adalah sebuah perusahaan humas internasional yang sebenarnya tidak boleh menangani akun yang politis karena dibatasi oleh kode etik internal perusahaan. Jika hal ini benar, maka perusahaan ini berarti melanggar kode etik internalnya sendiri, dan saya pun berpikir, saran seperti apakah yang diberikan kepada Sandi Uno dari mereka yang melanggar kode etik internalnya untuk mengejar keuntungan.</p>
<p>Sekali lagi, melibatkan bloggers dalam kampanye, baik kampanye pemasaran maupun kampanye politik, memang mulai lumrah &#8211; bahkan menjadi semacam tren yang bisa dilakukan oleh banyak pihak. Tapi apakah penyelenggara bisa memberikan pengalaman yang positif, perlakuan yang baik, dan apresiasi yang pantas bagi para blogger, tidak semua pihak bisa melakukannya.</p>
<p><del datetime="2010-09-23T03:48:25+00:00"></del></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maverick.co.id/pr-communications/2010/09/pelajaran-dari-indonesiasetara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>82</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

