Blog
TALKING POINTS
Pelajaran dari #IndonesiaSetara
This entry was posted in Indonesian, PR & Communications, Social Media and tagged #indonesiasetara, blogger engagement, KADIN, Sandiaga Uno. Bookmark the permalink.Bahwa blogger sekarang menjadi selebritis dan captive market yang menggiurkan bagi pelaku bisnis – ini bukan hal baru lagi. Bahwa blogger sekarang juga banyak dilirik dan digaet oleh para politisi untuk kepentingan yang berbau politis juga bukan lagi rahasia. Kedua hal ini mulai lumrah dilakukan, dan tidak ada yang salah dengan ini. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana melakukan hal ini dengan baik, mengapresiasi para blogger, dan keterbukaan – karena hal inilah yang menjadi esensi dari dunia online dan internet.
Di acara deklarasi Indonesia Setara semalam, para blogger di salah satu komunitas blogger di Jakarta diundang untuk hadir. Undangan yang disebarkan lewat mailing list tersebut menyebutkan bahwa acara tersebut adalah deklarasi Indonesia Setara oleh Sandiaga Uno. Sepengetahuan saya dan beberapa teman blogger, Indonesia Setara adalah sebuah gerakan. Menarik juga, pikir saya. Ditambah lagi, ada informasi bahwa akan ada door prize (hal ini bisa diperdebatkan, tentu saja, dalam postingan terpisah), sehingga pada akhirnya ada sekitar 15 orang blogger yang akan datang, ditambah perwakilan dari Kaskus
Ketika hadir, venue acara sudah ramai. Setelah mengisi daftar hadir, saya menerima pin yang bertuliskan “SANDI for KADIN SATU”. Lho?! Ternyata acara tersebut adalah acara deklarasi Indonesia Setara, dan pencalonan Sandiaga Uno sebagai salah satu calon Ketua KADIN. Sebagian dari para blogger pun mulai bertanya-tanya, karena seperti saya, tidak ada satu pun dari kami yang menerima informasi bahwa acara malam itu adalah acara deklarasi pencalonan diri Sandi Uno sebagai Ketua KADIN.
Acara utama dimulai pukul 07.30, dan selama lebih dari 2 jam, para hadirin disuguhkan “hiburan” berupa testimoni dan pernyataan dukungan dari banyak orang terhadap pencalonan Sandi Uno. And it just went on and on and on…. Sampai salah seorang teman berkomentar bahwa ini seperti Friendster yang isinya hanya testimonial.
Jam 9 malam belum ada tanda-tanda acara akan berakhir, bahkan Sandi Uno sendiri belum mulai berbicara. Sebagian besar teman-teman blogger mulai bosan, mulai gelisah, dan mulai panas. Penyebabnya adalah sebuah siaran pers yang didistribusikan di tengah acara, yang mempunyai headline “Ratusan Technopreneur dan Blogger Dukung Sandi Uno Sebagai Calon Ketua Umum KADIN 2010-2015″. Apa?! Ratusan blogger “dukung” Sandi Uno??
Dalam beberapa menit tweet-tweet bernada menyindir mulai melintas di timeline. Salah seorang blogger memfoto siaran pers tersebut dan men-tweetnya. Respon mulai berdatangan. Sebagian besar berpikir bahwa mereka datang ke sini bukan untuk mendukung – lha wong tahu bahwa Sandi Uno mencalonkan diri saja baru pas datang… Komentar bernada negatif tentang penyelenggara acara dan si penulis siaran pers juga mulai muncul. Saya berpikir, wah, bisa backfire… Ndorokakung juga ikut dalam diskusi ini, dan ini artinya ada ribuan twitterer yang mengetahui hal ini.
Setelah lelah menunggu sampai acara selesai, kami masih harus menunggu lagi sampai konferensi pers selesai sekitar jam 10.20 untuk berfoto bersama. Dua detik, dan foto bersama selesai. Kami semua diminta untuk berkumpul bersama di Burger King karena sebagian belum makan. Terlintas di benak saya bahwa mungkin kami dikumpulkan untuk dibagikan goodie bag – karena ini praktek umum. Ternyata bukan goodie bag yang dibagikan, melainkan amplop!
Saya dan beberapa orang teman menolak. Buat saya ini aneh. Buat beberapa teman yang lain ini menghina dan sedikit merendahkan. Apalagi dibagikannya di tempat umum, di depan semua orang. Mendapat goodie bag atau kenang-kenangan ketika diundang ke acara seperti ini sudah biasa, tapi uang? Sebagian besar dari kita memutuskan untuk ngeblog karena keinginan kita untuk berbagi, menyuarakan pendapat dan kepedulian tentang berbagai hal, termasuk tentang Indonesia. Hal terakhir yang kita inginkan adalah menjadi “suara bayaran” pihak tertentu, tanpa mempunyai kebebasan untuk bisa menyuarakan pendapat pribadi kita. Setelah ini Twitter pun ramai kembali dengan topik ini. Sebagian bernada menyindir, walaupun ada juga yang menanggapi dengan lebih santai.

Bagi saya ada tiga kesalahan penyelenggara acara ini dalam melibatkan blogger. Pertama, dalam undangan tidak diberitahukan secara jelas dan lengkap mengenai acaranya. Beberapa merasa sedikit tertipu karena tidak tahu ini adalah deklarasi pencalonan Sandi Uno, beberapa salah kostum.
Kedua, yang penting bagi blogger adalah “pengalaman”. Pengalaman bertemu dan bersalaman dengan Sandi Uno, menjadi bagian dari mereka yang mengetahui informasi terkini, dan pengalaman tersebut sebaiknya diperhatikan dengan baik oleh penyelenggara. Jangan sampai blogger yang datang merasa tidak senang dan tidak nyaman, karena blogger bisa menuliskan pendapat mereka sebebas-bebasnya, dan semua orang bebas berkomentar langsung atas tulisan tersebut. Jika blogger yang bersangkutan punya massa yang cukup besar, hal ini jelas akan menjadi masalah.
Ketiga, penulisan headline siaran pers yang berlebihan dan “melanggar” para blogger. Tertulis “ratusan”, padahal hanya belasan. Tertulis “didukung oleh masyarakat umum dengan hadirnya bloggers dan technopreneurs muda yang spontan datang ke lokasi Jakarta Theatre walaupun tanpa undangan resmi”, padahal kami yang datang merasa diundang resmi, dan tidak berarti kedatangan tersebut berarti dukungan.
Keempat, ada pembagian amplop. Praktek yang oleh sebagian orang dianggap “biasa” dalam industri jurnalisme, tapi penyelenggara mungkin tidak menyadari bahwa melibatkan blogger dalam acara seperti ini tidak perlu di-reward dalam bentuk uang per se. Mungkin saja uang ini hanya “uang transport” tanpa maksud apapun, tapi pendapat bahwa uang ini mungkin untuk “membeli” dukungan si blogger tidak bisa dielakkan.
Menurut saya, sayang hal ini harus terjadi karena Sandi Uno sebenarnya adalah seseorang yang mempunyai brand equity yang kuat. Ia dikenal sebagai pengusaha muda yang cerdas, sukses, visioner, dan peduli pada pelaku usaha kecil di Indonesia. Dan, tentu saja, Sandi Uno sangat charming dan ganteng bagi sebagian besar kami, kaum hawa ini…
Penyelenggara acara tidak memikirkan bloggers engagement dengan lebih baik lagi, dan mendistribusikan siaran pers yang menyinggung para blogger. Padahal program kerjanya menarik dan bagus, dan bahkan sebagian dari kami mulai merasa senang atas program yang diusung. Hal ini membuat saya berpikir tentang siapa yang menjadi penasehat Sandi Uno untuk meng-engage para blogger.
Ada spekulasi yang beredar bahwa penasehatnya adalah sebuah perusahaan humas internasional yang sebenarnya tidak boleh menangani akun yang politis karena dibatasi oleh kode etik internal perusahaan. Jika hal ini benar, maka perusahaan ini berarti melanggar kode etik internalnya sendiri, dan saya pun berpikir, saran seperti apakah yang diberikan kepada Sandi Uno dari mereka yang melanggar kode etik internalnya untuk mengejar keuntungan.
Sekali lagi, melibatkan bloggers dalam kampanye, baik kampanye pemasaran maupun kampanye politik, memang mulai lumrah – bahkan menjadi semacam tren yang bisa dilakukan oleh banyak pihak. Tapi apakah penyelenggara bisa memberikan pengalaman yang positif, perlakuan yang baik, dan apresiasi yang pantas bagi para blogger, tidak semua pihak bisa melakukannya.






Nah!
Terus terang saya tidak terlalu mengikuti waktu demi waktu tentang penyelenggaraan acara melalu Twitter. Justru persis yang menarik ketika ada salah satu pengguna Twitter yang menyebutkan soal amplop. Bahkan, yang twit yang saya baca bukan berasal dari yang mengikuti acara tersebut.
Viral? Iya juga kali ya hasilnya, walaupun sepertinya bukan itu yang diharapkan.
Terima kasih untuk ulasannya yang kumplit!
Mungkin sekedar menambahkan, bukan untuk maksud membela Timnya mas Sandy. #Indonesiasetara yang dibuat komunitas di twitter emang banyak pendukungnya. Di http://www.indonesiasetara.com malah didukung 3726 orang.
postingan bagus.
sepertinya, Sandiaga salam memilih EO dan konsultan komunikasi. senjata makan tuan….
terima kasih postingannya mencerahkan. bisa jadi bahan berkaca para blogger, juga semua orang.
nuwun.
Wahhhh tadinya saya udah pengen banget ikut acaranya, kok malah jadi mirip-mirip kayak kampanya ala parpol ya kalo begitu
Ehm.. Kayak kenal itu tweet photo dan tweet-nya siapa..
Hihihihihi
Aaaaaah Nenaaaa terima kasih atas tulisan ini. Kapan kita ketemua lagi?
A m p l o p ? WTF?!?!
Jelas penyelenggara tidak mengenal komunitas blogger. Imho, undangan yg sumir & pembagian amplop ini bisa jadi back lash buat imejnya Sandi Uno. Kesan yg saya tangkap, sang kandidat ini suka main politik uang, membeli suara & bersedia menghalalkan berbagai cara utk mencapai tujuan. Padahal, belum tentu demikian.
Well,
Sebenernya tidal bisa dipukul rata “uang” tersebut untuk membeli suara dukungan terhadap Sandiaga Uno, saya melihatnya ini sebagai Tanda terima kasih mau datang dan mengikuti acara tersebut sampai akhir pukul 11 malam, dimana tentu Saja kendaraan umum Sudah tidak Ada lagi (busway dll) kecuali taxi, mungkin penyelenggara menganggapnya sebagai pengganti ongkos taxi untuk teman teman blogger pulang.
Kalau mau “nyogok” saya yakin bahwa nilainya Akan lebih dari itu, seharusnya sih tidak melebih lebihkan “ongkos taxi” ini dan menilai negatif hall tersebut dari teman teman blogger.
Kalau Ada kesalahan dimaklumi aja atau di konfirmasi ke panitianya dan tidak menilai sepihak Tanpa Ada konfirmasi dari yang bersangkutan.
Salam.
(maaf banyak salah ketik, maklum baru puny iPad)
@Joddy: setuju, gerakannya bagus dan memang didukung oleh banyak orang. Yang menjadi sedikit masalah adalah cara meng-engage blogger yang kurang menyenangkan.
@mas Blontank: maturnuwun mas… Pengalaman berharga buat saya, mudah2an bisa bermanfaat buat yang lain juga yaa..
@Firman: hehe, materinya sih cukup berbobot, gerakan #indonesiasetara-nya juga bagus, sayangnya penyelenggaraan acara yang melibatkan blogger aja agak nggak enak..
@Chich: iya mak chic…
rasanya kok perlu jadi bahan pembelajaran buat kita semua… *peyuk* makasih juga yaa!!! hihihi..
Sebenarnya teman2 maverick yang terlalu emosional dan salah mengerti. Karena rilis itu menyebutkan ratusan “pendukung” bukan “hadirin”. Karena kalau pendukung memang benar, liat saja di http://www.indonesiasetara.com. Yang mendukung justru lebih dari seribu. Dan kalau Maverick tidak tahu mas Sandi mencalonkan Kadin1 tidak bisa menyalahkan siapa2. Karena saya tahu dan banyak teman tahu. Mengenai “amplop” apa iya ini benar terjadi? atau hanya tuduhan emosional lagi? Go mas Sandi go…
Sebenernya teman2 maverick yg terlalu emosional dan salah mengerti. Karena rilis itu menyebutkan ratusan “pendukung” bukan “hadirin”. Karena kalau pendukung memang benar, liat saja di http://www.indonesiasetara.com.. Yg mendukung justru sudah lebih dari seribu. Dan kalau maverick tdk tahu mas sandi mencalonkan Kadin1 tdk bisa menyalahkan siapa2. Karena saya tahu, dan banyak teman tahu. Mengenai “amplop” apa iya ini benar terjadi? Atau hanya tuduhan emosional lagi?.. Go Mas Sandi go..
Ini karena ga dapet project atau apa nih bisa sinis begini,
Itu ratusan pendukung.. Bukan hadirin…Bilang aja maverick nih kok dikit2 nyela aja.. Gimana Indonesia bisa setara kalau dikit2 sinis dan fitnah.. Oo maverick yang punya Malaysia yaaa
@nena
Pe-eR pertama ya menatar EO kampungan itu
@Vidiyama: betul, memang belum tentu ini adalah money politic, dan hanya merupakan tanda terima kasih.
Terima kasih masukannya!
@OliverCain @meeta: wah, ini satu orang yah?
iya, memang gerakan ini banyak pendukungnya kok, dan senang rasanya melihat banyak orang yang mendukung perubahan ke arah yang positif. Kami bukannya tidak mendukung Sandi Uno lho..
itu tolong skrinsyut status twiter nya juga diurek2 bagian avatarnya.. ganggu #gakpenting
Oohh ternyata seperti ini ceritanya….
wahahaha…lama2 ada blogger amplop juga, ga cuma wartawan amplop. lalu siapa lagi yang bisa dipercaya oleh warga untuk menyampaikan informasi?
menurut saya emang rancu kalo undangannya untuk deklarasi #indonesiasetara tapi isinya malah #sandi fo kadin satu.
) macam parpol saja :p
padahal kl diakumulasikan buat makan makan doang malah akan jadi kesenengan ya bloggernya
)
*komen santai mode on*
pelajaran buat eo dan pr adalah bahwa blogger sekarang itu harus diperlakukan layaknya lingkup profesional. kalau memang ingin membayar, adakan deal dari awal. begitu juga kalau hanya ingin acara santai, hangat dan kekeluargaan, kita juga bisa.
pengalaman saya mengikuti kampanye pilpres JK pemilu lalu, mungkin bisa diambil pelajaran. kala itu, memang blogger diberi kursi untuk mengikuti rombongan JK berkampanye ke daerah. ngga ada janji iming-iming uang dan lainnya dari tim pencitraannya. dan memang ngga ada. hasilnya, sebuah pencitraan yang bagus bagi tim kampanye JK.
Sedih ya kalau jadi masalah gini, padahal kan pesan yang dibawa Mas Uno bagus banget.
Salah satu kelemahan acara ini adalah blogger yang diundang salah, blogger yang diundang seharusnya blogger yang concern dengan politik atau ngerti tentang Kadin.
Saya ada di acara tersebut dan ketika salah satu sambutan berbicara tentang pemilihan Kadin, sudah langsung ketahuan apa maksud Mas Uno mengundang kita semua.
Well, sekarang jadi penasaran gimana PR atau agencynya menangani back fire seperti ini
Mungkin teman-teman punya saran bagaimana cara menanganinya?
eh, para pencela yang emosional…
tahukah yang sedang kalian lakukan justru tindakan bunuh diri, dan pelann-pelan meruntuhkan kredibilitas orang yang kalian dukung?
asli, kalian itu aneh. ketemu krisis malah memperparahnya dengan komentar-komentar naif. pembelaan boleh saja. tapi yangg asyik, dan cantik…
Oliver : eh beneran ada kok amplopnya
Maap nambah komen
Masih jaman ya amplop2an…kl niat enaknya ya langsung transfer aja ya dan ternyata Press Releasenya emang lebay.
Nenaaaa…apa kabar?
Oh ini acara yang tadi malem itu ya say..? Sebenernya aku diajak sih, tapi karena malem aku nolak. Padahal program2 yang diusung mas Sandiaga nan tampan itu kan keren ya..
Duh PR-nya siapa sih sampe bisa begitu? secara gak langsung ini mencoreng muka Sandiaga juga dong kalo begituh? Hah. Aku share di twitter juga ya tulisan kamu.
Nice writing anyway!
Di twitter teman saya sedang mencoba naikin trending topic #indonesialabil saya awalnya kurang ngeh juga dan baru tadi dapat blog ini dari tweetsnya mas Riyogarta.
Agak kurang etis juga tindakan EO kandidat tersebut.
thanks buat ulasannya, cuma satu kata… waw….
satu hal yang pasti, PR yang bertanggungjawab melaksanakan acara semalam, sepertinya belum memahami sepenuhnya perilaku para pegiat daring (online activist) di Indonesia.
benar seperti yang dikatakan oleh @nicowijaya di komen sebelumnya, bahwa seharusnya blogger diperlakukan profesional. kenapa? meskipun belum menjadi sebuah profesi yang resmi, akan tetapi setiap blogger memiliki massa masing-masing yang mengikuti perkembangan dan juga pembaruan (update) dari blogger itu. apapun kesan yang ditangkap blogger, pastinya juga akan dirasakan oleh massa-nya tersebut.
dan memang, press release-nya sepertinya agak mengada-ada. karena itulah kesan yang saya tangkap, ketika saya pun hadir semalam di acara tersebut.
Hahaha… Di pemerintah sering kok terima amplop karena hadir suatu kegiatan… Anggap aja ungkapan trima kasih dan ga sempet mewujudkannya jadi souvenir… Mengenai besarannya, ya Alhamdulillah… Toh harga souvenir khan variatif… Kalo ga cukup, bisa menghubungi mas jenggot lg…
Toh… Dua sisi mata uang… Di sisi mana kita melihat itu sbg bribery… So far sih ga ada pesan “nanti dukung kami” atau “buat ulasannya ya”
Btw… Kalo saran gw sih diterima, then masukin ke kotak amal… Malah pahala…
ijin nyimak mba..
Terima kasih, Nena. Saya jadi paham karena tudak mengikuti isu sejak awal, cuma dengar lontaran dari sana-sini. Bahkan membuka tautan Sandiaga Uno juga karena tulisan Nena.
Yeahhh buat pelajaran bersama, semua pihak.
Menarik. Saat membaca undangan yang disampaikan, saya juga tidak berpikir sampai ke arah “Indonesia Setara” adalah gerakan kampanye Kadin1. Saya pikir itu lebih ke arah gerakan sosial. Cukup kaget juga update-nya tadi malam ternyata ke kampanye pencalonan.
Memang menurut saya seharusnya cenderung mengundang blogger atau pengguna Twitter yang concern dengan hal politik-ekonomi.
Kalau kata temen saya, harusnya bunyi press-releasenya: “saya resmi didukung oleh ratusan blogger sebagai satu-satunya calon ketua kadin yang baru dengan bukti syah ratusan porsi makanan yang ludes”
Sekian.
Says tmsk yg di bbm pihak panitia, dibombardir permintaan dan ping utk segera bertanya ke sandiago perihal indonesiasetara. Saya tanya ini konteksnya apa dulu, tdk dijwb. Akhirnya krn terus2an di ping, sy bertanya jg mll Twitter: apa tolak ukur keberhasilan indsetara dan bgmn kita2 bs berkontribusi. Pun akhirnya sy tdk tau jwbnnya apa. Bbrp wkt lalu sy jg diundang non ton bareng sang pence rah lanjut diskusi. I smell something fishy and prefer not going. Bener aja, gak lama di Twitter muncul berita bahwa ini acara partai. Tidak ada yg salah dgn acara dukung sandiago. Tdk Ada yg salah dgn partai politik mengadakan acara namun jgn ada hidden agenda. Sementara sbg blogger, kontrol tetap di tgn kita jgn sampai kita disetir tanpa kita ketahui. Kalau dr awal kita tau, suka dan kmdn mengikuti, ya silakan sajaaa…
Let’s be smart in socmed
Sedikit melenceng tapi masih boleh lah. Mau tanya ya.. Bisa didiskusikan.
Apa ya salahnya blogger nerima amplop? Blogger kan tidak punya kode etik jurnalistik seperti jurnalis. Dimana jurnalis memang tidak boleh nerima amplop.
hahaha
Anggap aja ungkapan trima kasih dan ga sempet mewujudkannya jadi souvenir… Mengenai besarannya, ya Alhamdulillah… Toh harga souvenir khan variatif… Kalo ga cukup, bisa menghubungi mas jenggot lg…
Ibarat dua sisi mata uang… Di sisi mana kita melihat itu sbg bribery… So far sih ga ada pesan “nanti dukung kami” atau “buat ulasannya ya” Btw… Kalo saran gw sih diterima, then masukin ke kotak amal… Malah pahala…
Btw… Di pemerintah sering kok terima amplop karena hadir suatu kegiatan… resmi loh, masuk anggaran… padahal tetep aja banyak yng dateng tapi ga guna… hargai ajah niatnya untuk meluangkan waktu…
Merasa minim info… hmmm… ada baiknya sebelum hadir emang bertanya… Indonesia Setara itu acara apa ya… du du du
Soal menerima amplop atau tidak itu urusan masing-masing blogger. Tetapi memang ketika blogger menerima uang dan kemudian menulis sesuatu tentang pemberi uang itu (apalaig bagus-bagus), tidak salah kan kalau pembaca mempertanyakan obyektivitas blogger tersebut?
@alderina setahu saya sih, belum ada tuh persatuan blogger indonesia, atau bagian khusus di dewan pers yang menaungi soal blogger..
jadi, sepertinya tidak salah.
Nice article, Nena.
Semalam saya sempat sirik waktu baca tweet teman-teman. Duh, ada acara kok saya nggak diundang? Ternyata saya kurang eksis! Hehehe.
Agak sinis juga pas baca hashtag-nya, #indonesiasetara. Duh, makin lama makin banyak nih kampanye yang tampaknya sejenis dan mirip-mirip.
Untung juga gak diundang, kalo iya, mungkin ujung2nya kesel. Kenapa bukan saya yang disuruh bikin press release-nya? Pasti lebih keren. Hehehehe. *disambit barbel sama Nena yg lagi rajin fitness*
Tapi paling nggak, ini bisa dijadikan pelajaran tentang bagaimana melakukan blogger engagement. Ehm, walaupun saya udah lama nggak update blog, saya juga blogger lho! *dikemplang imac sama hanny dan anak2 new media maverick*
*tertarik dengan pernyataan alderina*
salahkah?
bahkan untuk tataran pemangaku Tupoksi kerja aja, “honor amplopan” masih lumrah… dulu gw pernah misuh2 karena amplopnya diganti J.Co, wong anak gw ga minum susu donat !!!
Itu teknik klasik yg dipraktekkan para politisi kelas kampung sampai nasional. Menjebak massa shg terlihat mendukung. Mgkn di negara asal konsultan/EO asing tsb., teknik begini bisa dilakukan, karena rakyatnya buta politik. Tapi ini Indonesia bung… gak semua orang bodoh.
Kemudian, memberi amplop itu merendahkan sekali. Itu teknik politisi memperlakukan massa kelas kampung, yg dikasih duit diem dan ngeloyor pergi tanpa banyak komentar atau pertanyaan.
Tapi ini kan blogger, komunitas yg untuk bisa nge-blok, minimal punya intelektual di atas rata-rata lah. Jangan diperlakukan spt massa murahan yg dikasih duit lantas bungkam dong… itu kan untukorang miskin dan kelaparan dimana urusan perutnya lbh mendesak drpd urusan otak dan jiwanya.
Itu teknik klasik yg dipraktekkan para politisi kelas kampung sampai nasional. Menjebak massa shg terlihat mendukung. Mgkn di negara asal konsultan/EO asing tsb., teknik begini bisa dilakukan, karena rakyatnya buta politik. Tapi ini Indonesia bung… gak semua orang bodoh.
Kemudian, memberi amplop itu merendahkan sekali. Itu teknik politisi memperlakukan massa kelas kampung, yg dikasih duit diem dan ngeloyor pergi tanpa banyak komentar atau pertanyaan.
Tapi ini kan blogger, komunitas yg untuk bisa nge-blog, minimal punya intelektual di atas rata-rata lah. Jangan diperlakukan spt massa murahan yg dikasih duit lantas bungkam dong… itu kan untukorang miskin dan kelaparan dimana urusan perutnya lbh mendesak drpd urusan otak dan jiwanya.
@Alderina:
Nggak ada yang salah, toh kita sebagai blogger ndak ada keterikatan dengan kode etik apapun. Tapi kalau bagi saya dengan konteks kasus #indonesiasetara, ini bukan permasalahan kewajiban atau tidak, tapi permasalahan beban moral, permasalahan integritas kalau kata temen (halah temen lagi). Bagaimana kita menghargai perasaan teman2 blogger lain yg merasa dilecehkan karena merasa dibeli paksa dengan cara dijebak.
Kecuali sih ya, kalau kita dengan terang2an ngomong: “BAIKLAH, SAYA TERIMA AMPLOPNYA, TAPI INI BUKAN LANTARAN NGEDUKUNG BAPAK, MELAINKAN SEBAGAI GANTI UANG TAKSI KE SINI DAN BELI MAKANAN KARENA MAKANAN DI SINI HABIS!”
Dear Pak RT Mampang…
Ga ada case integritas yang di langgar, dan ga ada unsur pelecehan karena dibeli paksa loh…
gw ingetin sedikit aja point nya “kita ga ada kewajiban tuk mereview atau menulis apapun”…
dan juga ga ada yg dijebak, karena kita bisa terlebih dahulu menilik apa sih acara itu… kalo di jawab “dah ikut aja”… tuh dia baru bisa di klaim cara lama ga cantik… hihihi…
*ngemil cereal* #refresh
Boomerang dari Blogger untuk #IndonesiaSetara siap diluncurkan…!
“yang penting bagi blogger adalah pengalaman”
<<<oyeeee
@imam… meluncurkan boomerang dari Blogger… berarti balik ke Blogger lagi donk kena nya… hufttt… ente aja deh yang luncurin… *benjut*
Quote:
Ketika hadir, venue acara sudah ramai. Setelah mengisi daftar hadir, saya menerima pin yang bertuliskan “SANDI for KADIN SATU”. Lho?! Ternyata acara tersebut adalah acara deklarasi Indonesia Setara, dan pencalonan Sandiaga Uno sebagai salah satu calon Ketua KADIN. Sebagian dari para blogger pun mulai bertanya-tanya, karena seperti saya, tidak ada satu pun dari kami yang menerima informasi bahwa acara malam itu adalah acara deklarasi pencalonan diri Sandi Uno sebagai Ketua KADIN.
Unquote.
Jd pertanyaan juga sih, ketika ada “penyimpangan” dari acara yg tertulis diundangan, kenapa masih tetap hadir, sampai selesai pula? Gak ada kewajiban untuk tetap disana juga kan?
mmmm .. suatu fenomena baru yang menarik .. ternyata blogger sdh dianggap aktor strategis yg diperhitungkan rupanya
nena…postingannya keren ^o^
Sebenarnya pak Sandiaga mmg byk yg mendukung,program2 nya juga menarik,tapi sayang beliau salah memilih EO dan jadi bumerang buat citranya sendiri…
Hanya ingin memperkeruh suasana:
Tmn2 Jurnalis apa tdk merasa tersinggung, krn blogger bilang gmau terima amplop -tdk seperti Jurnalis? LOL
Apakah jabatan sebagai ‘blogger’ memang membuat org jadi self-righteous, atau cuma yg diimbuhi ‘senior’ aja?
EOnya sapa sih?