Blog
TALKING POINTS
Pelajaran dari #IndonesiaSetara
This entry was posted in Indonesian, PR & Communications, Social Media and tagged #indonesiasetara, blogger engagement, KADIN, Sandiaga Uno. Bookmark the permalink.Bahwa blogger sekarang menjadi selebritis dan captive market yang menggiurkan bagi pelaku bisnis – ini bukan hal baru lagi. Bahwa blogger sekarang juga banyak dilirik dan digaet oleh para politisi untuk kepentingan yang berbau politis juga bukan lagi rahasia. Kedua hal ini mulai lumrah dilakukan, dan tidak ada yang salah dengan ini. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana melakukan hal ini dengan baik, mengapresiasi para blogger, dan keterbukaan – karena hal inilah yang menjadi esensi dari dunia online dan internet.
Di acara deklarasi Indonesia Setara semalam, para blogger di salah satu komunitas blogger di Jakarta diundang untuk hadir. Undangan yang disebarkan lewat mailing list tersebut menyebutkan bahwa acara tersebut adalah deklarasi Indonesia Setara oleh Sandiaga Uno. Sepengetahuan saya dan beberapa teman blogger, Indonesia Setara adalah sebuah gerakan. Menarik juga, pikir saya. Ditambah lagi, ada informasi bahwa akan ada door prize (hal ini bisa diperdebatkan, tentu saja, dalam postingan terpisah), sehingga pada akhirnya ada sekitar 15 orang blogger yang akan datang, ditambah perwakilan dari Kaskus
Ketika hadir, venue acara sudah ramai. Setelah mengisi daftar hadir, saya menerima pin yang bertuliskan “SANDI for KADIN SATU”. Lho?! Ternyata acara tersebut adalah acara deklarasi Indonesia Setara, dan pencalonan Sandiaga Uno sebagai salah satu calon Ketua KADIN. Sebagian dari para blogger pun mulai bertanya-tanya, karena seperti saya, tidak ada satu pun dari kami yang menerima informasi bahwa acara malam itu adalah acara deklarasi pencalonan diri Sandi Uno sebagai Ketua KADIN.
Acara utama dimulai pukul 07.30, dan selama lebih dari 2 jam, para hadirin disuguhkan “hiburan” berupa testimoni dan pernyataan dukungan dari banyak orang terhadap pencalonan Sandi Uno. And it just went on and on and on…. Sampai salah seorang teman berkomentar bahwa ini seperti Friendster yang isinya hanya testimonial.
Jam 9 malam belum ada tanda-tanda acara akan berakhir, bahkan Sandi Uno sendiri belum mulai berbicara. Sebagian besar teman-teman blogger mulai bosan, mulai gelisah, dan mulai panas. Penyebabnya adalah sebuah siaran pers yang didistribusikan di tengah acara, yang mempunyai headline “Ratusan Technopreneur dan Blogger Dukung Sandi Uno Sebagai Calon Ketua Umum KADIN 2010-2015″. Apa?! Ratusan blogger “dukung” Sandi Uno??
Dalam beberapa menit tweet-tweet bernada menyindir mulai melintas di timeline. Salah seorang blogger memfoto siaran pers tersebut dan men-tweetnya. Respon mulai berdatangan. Sebagian besar berpikir bahwa mereka datang ke sini bukan untuk mendukung – lha wong tahu bahwa Sandi Uno mencalonkan diri saja baru pas datang… Komentar bernada negatif tentang penyelenggara acara dan si penulis siaran pers juga mulai muncul. Saya berpikir, wah, bisa backfire… Ndorokakung juga ikut dalam diskusi ini, dan ini artinya ada ribuan twitterer yang mengetahui hal ini.
Setelah lelah menunggu sampai acara selesai, kami masih harus menunggu lagi sampai konferensi pers selesai sekitar jam 10.20 untuk berfoto bersama. Dua detik, dan foto bersama selesai. Kami semua diminta untuk berkumpul bersama di Burger King karena sebagian belum makan. Terlintas di benak saya bahwa mungkin kami dikumpulkan untuk dibagikan goodie bag – karena ini praktek umum. Ternyata bukan goodie bag yang dibagikan, melainkan amplop!
Saya dan beberapa orang teman menolak. Buat saya ini aneh. Buat beberapa teman yang lain ini menghina dan sedikit merendahkan. Apalagi dibagikannya di tempat umum, di depan semua orang. Mendapat goodie bag atau kenang-kenangan ketika diundang ke acara seperti ini sudah biasa, tapi uang? Sebagian besar dari kita memutuskan untuk ngeblog karena keinginan kita untuk berbagi, menyuarakan pendapat dan kepedulian tentang berbagai hal, termasuk tentang Indonesia. Hal terakhir yang kita inginkan adalah menjadi “suara bayaran” pihak tertentu, tanpa mempunyai kebebasan untuk bisa menyuarakan pendapat pribadi kita. Setelah ini Twitter pun ramai kembali dengan topik ini. Sebagian bernada menyindir, walaupun ada juga yang menanggapi dengan lebih santai.

Bagi saya ada tiga kesalahan penyelenggara acara ini dalam melibatkan blogger. Pertama, dalam undangan tidak diberitahukan secara jelas dan lengkap mengenai acaranya. Beberapa merasa sedikit tertipu karena tidak tahu ini adalah deklarasi pencalonan Sandi Uno, beberapa salah kostum.
Kedua, yang penting bagi blogger adalah “pengalaman”. Pengalaman bertemu dan bersalaman dengan Sandi Uno, menjadi bagian dari mereka yang mengetahui informasi terkini, dan pengalaman tersebut sebaiknya diperhatikan dengan baik oleh penyelenggara. Jangan sampai blogger yang datang merasa tidak senang dan tidak nyaman, karena blogger bisa menuliskan pendapat mereka sebebas-bebasnya, dan semua orang bebas berkomentar langsung atas tulisan tersebut. Jika blogger yang bersangkutan punya massa yang cukup besar, hal ini jelas akan menjadi masalah.
Ketiga, penulisan headline siaran pers yang berlebihan dan “melanggar” para blogger. Tertulis “ratusan”, padahal hanya belasan. Tertulis “didukung oleh masyarakat umum dengan hadirnya bloggers dan technopreneurs muda yang spontan datang ke lokasi Jakarta Theatre walaupun tanpa undangan resmi”, padahal kami yang datang merasa diundang resmi, dan tidak berarti kedatangan tersebut berarti dukungan.
Keempat, ada pembagian amplop. Praktek yang oleh sebagian orang dianggap “biasa” dalam industri jurnalisme, tapi penyelenggara mungkin tidak menyadari bahwa melibatkan blogger dalam acara seperti ini tidak perlu di-reward dalam bentuk uang per se. Mungkin saja uang ini hanya “uang transport” tanpa maksud apapun, tapi pendapat bahwa uang ini mungkin untuk “membeli” dukungan si blogger tidak bisa dielakkan.
Menurut saya, sayang hal ini harus terjadi karena Sandi Uno sebenarnya adalah seseorang yang mempunyai brand equity yang kuat. Ia dikenal sebagai pengusaha muda yang cerdas, sukses, visioner, dan peduli pada pelaku usaha kecil di Indonesia. Dan, tentu saja, Sandi Uno sangat charming dan ganteng bagi sebagian besar kami, kaum hawa ini…
Penyelenggara acara tidak memikirkan bloggers engagement dengan lebih baik lagi, dan mendistribusikan siaran pers yang menyinggung para blogger. Padahal program kerjanya menarik dan bagus, dan bahkan sebagian dari kami mulai merasa senang atas program yang diusung. Hal ini membuat saya berpikir tentang siapa yang menjadi penasehat Sandi Uno untuk meng-engage para blogger.
Ada spekulasi yang beredar bahwa penasehatnya adalah sebuah perusahaan humas internasional yang sebenarnya tidak boleh menangani akun yang politis karena dibatasi oleh kode etik internal perusahaan. Jika hal ini benar, maka perusahaan ini berarti melanggar kode etik internalnya sendiri, dan saya pun berpikir, saran seperti apakah yang diberikan kepada Sandi Uno dari mereka yang melanggar kode etik internalnya untuk mengejar keuntungan.
Sekali lagi, melibatkan bloggers dalam kampanye, baik kampanye pemasaran maupun kampanye politik, memang mulai lumrah – bahkan menjadi semacam tren yang bisa dilakukan oleh banyak pihak. Tapi apakah penyelenggara bisa memberikan pengalaman yang positif, perlakuan yang baik, dan apresiasi yang pantas bagi para blogger, tidak semua pihak bisa melakukannya.






Hehe kalo memang tulus serius punya niat bikin #IndonesiaSetara tanpa harus “NGADIN’ kan bisa kan ya ? IMHO
EO tak akan bertindak tanpa seizin client….SANDI tetap bertanggungjawab…
dengan ulah ini SANDI seperti ingin memberitahu publik bahwa INDONESIA hanya setara dengan amplop…
sungguh ironis….
@arisaja penasaran kali pingin tau ujungnya gimana
@waraney *lempar iMac*
waduh, tfs mba
fatal sekali akibatnya yah? mudah2an bisa clear. Tidak seharusnya seperti itu, dan kalau berada disana, saya jelas2 merasakan hal yang sama. Merasa tertipu dan tentunya jelas, menerima amplop adalah sebuah pelecehan ^_^
terima kasih sudah berbagi
@hanny: dari awal udah ketahuan, kampanmye, what do you expect?
)
Quote:
Ndorokakung juga ikut dalam diskusi ini, dan ini artinya ada ribuan twitterer yang mengetahui hal ini.
Unquote
IMO pernyataan diatas, sama saja dengan pernyataan di press release tersebut.
Makin menambah keruh lagi,
Blogger bebas menulis apa saja, tp di sisi lain ingin dianggap profesional. AFAIK, setiap profesi ada kode etik masing2 agar kredibilitas dan integritas profesi terjaga. Ataukah blogger sebagai profesi tidak perlu integritas?
Ini dianggap profesional atau dianggap penting?
Atau kode etiknya, “boleh terima goodie bags asal bukan amplop”?
@adit… yah dit, masa ga dapet amplop sama BK Whopper lagi sih… kmrn ada yg sampe mbungkus loh buat karyawannya… artinya banyak manfaatnya toh, itung2 pahala…
hiks… brarti lengkap deh undangannya besok2… smoga ga keabisan makanan, tetep trus liat banyak wacana baru, bisa makan bulgel, plus masuk angin, terpaksa kemaleman, dilengkapi susah cari kendaraan jadi kudu naksi juga dunk… ga tega… sumpeh… pa lagi ampe rumah anaknya dah keburu bobo…
banyak aspek siy, di sisi mana yang bisa jadi inti masalah, wacana kritis atau pembenaran hayooo…
*think*
@ZARENDRA Share dikit neh
ente kira waktu kampanye kemaren bapak SBY tau ada calegnya bagi bagi bagi DoorPrice (motor, Kulkas, Tv dll) ampe satu kontainer di simpang lima semarang?
dan ente kira waktu itu gw sebagai salah satu Panitia kota entuh ga terkaget2 dan memprediksi akan ada kebodohan macam itu? hahaha we never read others mind Bro… EO dan Konsultan Politik tetep salah ya… jiaaahhh *nyerah*
Arisaja : aku sih sempet ngabur bentar, makan di bawah
Tapi kenapa ngga langsung cabut? Karena yang ngundang temen saya dan saya menghargai temen saya. Jadi saya tunggu sampai acara selesai. Terus juga masih pengen kumpul-kumpul sama temen-temen sih. Itu kalau saya, ngga tau yang lain.
Adit : hehehehe… santai dit, kalau ngga jatuh, ngga belajar.
Teman-teman blogger,
Terutama untuk yg td malam sudah menyempatkan diri datang ke acara deklarasi IndonesiaSetara. Atas nama pribadi, saya mohon maaf segala kesalahan yang saya perbuat selama dan setelah acara berlangsung.
Apa yang saya lakukan (pemberian amplop), pada dasarnya, adalah untuk mengapresiasi kehadiran teman-teman blogger di tempat acara tanpa ada maksud lain. Dan hal tsb adalah ide saya pribadi dan bukan merupakan permintaan dari Bpk Sandi Uno.
Saya mohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam karena kemudian disalahartikan sebagai sesuatu yang negatif dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Apa yang terjadi semalam menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya pribadi dan semoga ke depan bisa lebih baik lagi.
Terima kasih atas kesediaan teman-teman hadir diacara tersebut.
Bilamana masih ada masalah yang mengganjal silakan menghubungi saya, dengan senang hati saya terima.
Hormat saya,
Aditya Sani
aditya.r.sani@gmail.com
08119003058
ulasan yang lugas dan bernas. Inilah kekuatan blogger. Gara-gara ngetweet saya juga jadi penasaran kenapa sih EO dan PR nya #Indonesiasetara… ternyata kampanye kandidat Kadin 1 rupanya. Rupanya mirip banget dengan munas parpol ya pakai acara deklarasi segala.
Thanks buat ulasannya mbak nena. Mencerahkan dan yang penting membuat pembelajaran tersendiri buat blogger dan para EO lainnya.
Salam kenal dari saya.
ratna_ariani@yahoo.com
@adit: amplop ku mana dit?
kalo saya pribadi sih seneng-seneng aja dateng, salaman sama Sandi Uno, poto bareng sama ngeliat beliau yang Charming banget udah cukup tanpa perlu amplop, tapi kalo dapet ya gak masalah… seperti kata beberapa komentar diatas, untuk mengapresiasi, siapa tau susah pulang, atau belom keburu makan padahal makanan udah keburu abis, masuk angin, dll…
Soal kita mau ngedukung, mau gak dukung, mau nulis, mau gak nulis, mau ngebagus-bagusin, mau ngejelek-jelekin juga tidak mengikat ya (kayaknya)
Apalagi setelah mendengar “isi program-program nya” yang sesungguh nya bagus… tapi yaaa buat sekedar launching (yg ternyata buakn launching #IndonesiaSetara, tapi sekaligus kampanye Sandi for KADIN 1) lama beeeettt… testimonial nya banyak beneur.. intro yg kepanjangan yg bikin kita “gelisah” diperarah sama press rilis yg seakan2 menyulut sekam yg gampang terbakar.
tapi sekali lagi, blogger bukan nya seneng2 aja ya di ajak ngumpul, ketemu org baru, dapet pengalaman baru, lalu blogger dapet amplop toh juga bukan berita baru kan…
so?
wow
lahan pekerjaan baru nih, blogger bodrek
Kalau soal “amplop” mending kayanya yg punya hajat harus transparan, agar tidak disangka “money politic” atau paling baik sediakan bus yang siap mengantar teman-teman blogger yang diundang sampai rumah bila acaranya sampai larut malam, Dan run-down acara di publikasikan dulu kepada undangan supaya tidak kaget kaget kalau ada yang diluar tema acara.
Sebenarnya, saya kenal beberapa blogger terkenal yang punya tariff, nah mungkin karena hal ini, panitia jadi memukul rata semua blogger punya “tariff” minimal ada “ongkos” coba kalau “oknum” tersebut ga dikasih pengganti transport, malah bisa menulis yang nggak nggak, serba salah kan?
Justru saya memperhatikan sejak pilpress, beberapa blogger terkenal jadi komersil, yang memicu timbulnya blogger karbitan yang memang tujuannya cari duit dari blognya. Padahal banyak juga yang punya kualitas tulisan luart biasa. Nah Kita semua Sama Sama memperbaiki diri lah agar lebih mengutamakan kualitas tulisan Dan mempunyai source Dan refrensi yang kredibel apa bila sudah berkaitan Dengan pihak lain.
Hehehe.. Maaf saya sok tau, mungkin hanya iri sama teman blogger karena saya tidak mampu menulis blog sebagus kalian, cuma punya twitter untuk meracau.
Salam.
@Vidiyama
postingan yg bagus mbak Nena
keknya emang salah pilih EO yaaa
wah mbak nena hebat, bisa dapet 64 komentar. Mbak nena pasti seleblog *dilempar amplop*
eniwei amplop memang dilema. gw dari dulu secara pribadi ndak pernah merekomendasikan memberikan uang, meskipun itu hanya sekedar ucapan terima kasih. lebih baik memberikan goodie bag, lebih aman (meski bisa jadi nilainya sama dengan nilai uang). tujuannya biar tidak mispersepsi seperti ini.
saya baca juga undangannya di milis kojak, dan memang tidak ada cerita kalau acara itu ada kaitannya dengan dukung mendukung menjadi ketua kadin. Pertanyaan saya memang spt nena: kenapa sih hal itu tidak disebutkan? apakah kalau disebutkan akan mengurangi minat blogger utk datang? (hihihi, memang pastinya sih iya ya, tapi setidaknya nggak memberikan ilusi palsu saat memberikan undangan)
Press release humas memang kadang bombastis, tapi kalau baca press release ini memang agak2 menyebalkan, karena di press release itu membawa2 nama/kelompok yang jelas2 sebelumnya tidak dimintai konfirmasi terlebih dahulu.
Hihihi, hai halo mas adit..
Sandiaga Uno should really have given the job to Maverick Indonesia, as apparently they know about bloggers and Twitterians better than anyone else in the world.
They know what bloggers do and do not like, they know what bloggers think about receiving money, etc etc.
Ikram
Mbak Nena,
Thanks atas sharing artikelnya. Inspiratif dan bisa menjadi referensi pengalaman berharga buat kita semua. Saya baru sempat baca dan kaget melihat fenomena yg terjadi ini.
ketika saya ngeliat undangan untuk kopdar di launching IndonesiaSetara yang kebayang di benak saya cuma kopdar dan ketemuan bareng kawan2 kojak, dan juga penasaran ama kawan2 yang belum pernah ketemu sebelumnya, ya intinya sih seneng-senangan dan have fun ama wan kawan semua.
jujur yang sangat aneh adalah ketika salah kawan yang mengordinir ini ketika hendak menyerahkan amplop yang katanya hadiah pintu atau doorprize, setahu saya kalau menang sesuatu ya diumuminnya secara publik, jujur saya langsung mundur teratur, seperti yang sudah sudah yang kayak ginian mestinya lebih transparan dan clear karena memang sangat rentan dari segala hal.
good posting mbak Nena, senang salaman dengan sampean
@adit:
Thanks udah nulis klarifikasi di sini. Kita yang nggak dateng dan cuma tahu dari blog post dan tweet teman-teman kan jadi tahu duduk perkaranya. Salut juga, gak semua orang mau dan berani mengaku kesalahan di depan publik.
Ayo teman-teman, berpelukaaaan. Hehehe. *sebelum disambit lagi sama hanny, duluan nyolong imac-nya maverick*
@vidi:
Setuju. Yang penting transparansi antara pihak-pihak yang terlibat. Kalau dari awal jelas, kan enak. Btw, lo udah berapa lama pake iPad? Kok masih typo mulu? Sini buat gue aja. Hahaha.
mbak @nena dan kak @pitra:
Saya juga mau dong diajarin cara jadi seleblog
@waraney : sebenarnya…. errr… iPad minjem.. hehehehe… kalau typo kayanya emang jarinya yang “error”
mbak @nena dan kak @pitra: aku juga mau jadi seleblog
kalau ada acara “ngeblog yang baik dan benar” undang saya yah..
Vidiyama
T: @vidiyama
E: Vidiyama@gmail.com
respek dengan kebesaran hati Aditya Sani memberi jawaban terbuka di sini. tak mudah mengambil keputusan demikian, meski sejatinya sangat bagus.
Aditya telah menghilangkan potensi munculnya prasangka dan kasak-kusuk curiga antarteman sesama blogger.
dari sini pula, semua pembaca bisa belajar bersama. saya pun dapat ilmu baru di sini. terima kasih Nena, Adit…..
@didut: makan yuukk…..
pertanyaan gak penting: berapaan sih satu victorinox?
pertanyaan yang gak kalah penting: kenapa sandi perlu pura2 banyak dukungan (dari para blogger)? apakah jika berjuang jujur dia gak bisa menuju kadin1?
pertanyaan absurd: kadin1 itu apa sih? kelompok dagang indonesia? kalau bicara tentang dagang, pasti banyak duit yang bakalan mengalir donk ke rekening2nya. it means, memberi amplop victorinox kepada 15 orang gak akan mencapai 1% dari keuntungan jika berhasil mendapat kadin1
pertanyaan idiot: sandi ini siapanya mien uno sih?
kesimpulan: jika ingin posisi strategis, pakailah tameng “demi negara”, “negara bersatu” dll. maka akan “banyak” dukungan:)
salam
mestinya sih nggak ada yang aneh.. mungkin lebih tepat bila dikatakan sebagai pengalaman baru buat sebagian teman..
saya nggak kenal si sandi, tapi bila dia ikutan ngasih komen di sini bisa menjadi revitalisasi dukungan dan jadi tabungan buat namanya di masa mendatang.
pada saat saya menulis ini, suryo b sulisto sudah terpilih menjadi ketua kadin, sementara sandi kalah pada putaran pertama. Bisa jadi bahan analisis dan pelajaran juga bagi praktisi sosial media agar segera menjadi dewasa dalam memahami realita..
cheers
Pingback: Echo chamber political communications consultants « Unspun
@blontankpoer tumben mas blontank yg terkenal kritis dan keras kok sekarang begitu mudah memaafkan aditya sani yg harusnya tidak termaafkan
mungkin bertindak sbg konsultan juga atau berharap sedikit kecipratan mungkin? hihihihi
terima kasih atas pemuatan posting dan komentar di atas. saya jadi merasa makin kecil dan harus lebih banyak belajar tentang media sosial, adab bergaul di ranah blog, blogger, politik, etika, bisnis, kearifan, dan seterusnya …
@krocoblogger: sampeyan siapa, ya? aneh juga komentar sampeyan… tapi tak apa. bukan soal bagi saya, mau Anda sebut seperti apa. mengapresiasi sebuah ‘keberanian’ itu penting, walau saya tidak yakin saudara Aditya Sani ‘tidak dalam kondisi di bawah tekanan’.
Yang lucu, pernyataan Anda: “mungkin bertindak sbg konsultan juga atau berharap sedikit kecipratan mungkin? hihihihi”
Maaf saja, saya tidak doyan yang demikian. Saya tak kenal Aditya, bahkan penulis posting ini pun tidak pernah saya kenal.
Bahwa saya tak sependapat dengan Pesta Blogger dan posisi Maverick di sana, itu soal lain. Kita harus fair menyikapi persoalan, sehingga tidak menyamaratakan semua persoalan, termasuk tidak menanggapi postingan Nena, yang memang bagus dan penting ini.
Andai sampeyan (krocoblogger) orang terhormat, tentu tak perlu sembunyikan identitas untuk berpendapat demikian. Sebab hanya pengecut dan orang kerdillah yang tak berani berdialog terbuka, mengemukakan pendapatnya tanpa takut risiko.
Semoga otak dan hati sampeyan tak sekotor tulisan dalam komentar sampeyan. Kirim email saya, kalau Anda mau saya ampuni kesalahan sampeyan, sehingga tak celaka di akheratmu kelak (itu kalau sampeyan punya dan percaya agama). Hahahaha….
Dulu saya berpendapat para blogger belum terkontaminasi “kepentingan”. Apakah itu uang atau lainnya. Tapi ternyata salah besar, dan yang saya sesalkan beberapa nama besar di dunia blogger juga ada di tempat itu. Aneh banget, kenapa ini bisa terjadi.
Apa perlu dibuat ‘kode etik’ buat para blogger. Silakan dipikirkan.
Hihihi… rame juga ternyata disini…
Blogger sudah menjadi sosok yang diperhitungkan dalam perkampanyean baik politik maupun pencitraan lainnya…..ini sebuah hal yang bagus
tapi kalau masalah amplop, saya sangat tidak setuju…kalau itu menjadi sebuah alat bagi mereka untuk meluruskan pencitraan,,,,
terimakasih atas postingan yang mencerahkan…..
Pingback: Bodrex dan Masa Depan Blogger « Fernandomillaz's Blog
wah kayak gak ada istiadat nya aja,,,untung gak jadi brngkat,,,klu jadi,,mau di kemain neh wajah seorang blogger…..